Senin, 13 Oktober 2014

[Edisi Cerpen] Kakak

Supaya konsisten ada postingan setiap hari di blog ini, maka hasil karya jaman jebot bolehlah ya dipajang, hehehe..

Kakak

Hujan turun rintik-rintik, tapi aku masih berada di situ. Duduk di samping pusara yang baru saja ditaburi bunga-bunga. Sahabatku, Prima, telah menunggu di dalam mobil, tapi aku masih saja memejamkan mata, berdoa agar dia yang telah meninggalkan dunia ini dapat memperoleh tempat terbaik di surga Alloh. Prima turun dari mobil sambil membawa payung untuk melindungiku dari hujan yang semakin deras. Ia tidak mengatakan apa-apa untuk memprotes begitu lamanya aku berdiam di situ. Ia sudah terlampau paham betapa berartinya orang itu bagiku.
Aku membuka mata, menoleh memandang Prima yang telah lama berdiri memayungiku.
“Afwan, Prim. Kelamaan, ya?” tanyaku padanya. Prima tersenyum.
“Nggak, rapat supervisi juga masih satu jam lagi. Gue nggak apa-apa kalau lo masih pengen lama di sini,” jawabnya, masih dengan senyum yang sama.
“Rapat supervisi... Yah, kita harus segera kembali ke kantor,” kataku sambil mengusap nisan makam itu.
“Rakha pulang dulu, Kak,” bisikku pelan. Aku lalu mengikuti langkah-langkah Prima menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Di dalam mobil yang dikemudikan Prima, pikiranku masih tertuju kepada makam itu, pusara yang bernisankan nama Shafiyya Ardinia, yang telah menghadap Robb-nya lima tahun yang lalu. Dia adalah kakak perempuanku, satu-satunya kakakku di dunia ini, yang teramat berharga bagiku. Aku kembali terkenang pada masa-masa itu, lima belas tahun yang lalu...
~oOo~
Wajah kedua orang tuaku begitu berseri saat tahu bahwa aku diterima di salah satu SMA favorit di kota ini. Tak kulupakan betapa bangganya kakakku ketika  adiknya ini mengikuti jejaknya di sekolah yang sama, walau telah satu tahun ia berada di bangku kuliah. Kecerdasan yang kuwarisi dari otak doktor ayah ternyata amat berguna. Kulewati masa SMA itu dengan berbagai prestasi cemerlang. Juara kelas setiap tahun, bintang basket sekaligus ketua OSIS di sekolah, hingga pemenang lomba sains tingkat nasional. Betapa disayangnya aku oleh guru dan teman-teman. Tak ada yang tidak mengenal Rakha Agung Alfiandra, baik di dalam maupun di luar sekolah.
Sayangnya, prestasi yang kutunjukkan ternyata merupakan hasil dari sebuah kekeliruan besar. Nilai sempurna yang kuperoleh setiap kali ujian adalah ‘berkah’ dari heroin yang kuhisap malam harinya, penampilan prima saat pertandingan basket adalah efek dari bubuk haram yang kunikmati beberapa jam sebelumnya.
Kuakui ini merupakan kesalahan fatal, terlebih lagi keluargaku tidak tahu menahu. Mereka tidak curiga sedikit pun saat aku keluar bersama teman-temanku setiap malam Minggu. Hanya ‘teman-teman gaul’ku yang mengetahui bahwa si bintang sekolah ini kerap teler setelah menghisap heroin. Kadang kutolak ajakan kakak untuk ikut kajian Islam di kampusnya, dengan alasan bahwa aku akan mengikuti pengajian di tempat lain. Padahal saat itu adalah saat yang kusepakati dengan bandar heroin untuk bertransaksi.
Kakak yang pertama kali tanggap melihat kelakuanku yang sering keluar malam bersama teman-teman. Sudah beberapa kali dia menawarkan untuk keluar bersamanya, ikut kegiatan kampusnya, yang kutahu akan berguna untuk menjauhkanku dari lingkungan yang buruk. Tapi berkali-kali pula tawarannya kutolak dengan berbagai alasan.Hingga pada suatu malam...
Adit meneleponku, mengajakku ke rumahnya dengan alasan ingin mentraktirku mencoba ‘barang baru’. Aku jelas tertarik dengan ajakannya, terlebih lagi ini traktiran. Kapan lagi aku bisa ‘fly’ dengan gratis? Maka aku pun berpamitan dengan kakak untuk sekali lagi keluar rumah. Papa dan Mama sedang menjenguk kerabat di luar kota yang sedang sakit keras. Agak cemas kulihat wajah kakak saat itu, ketika dia mengantarku hingga ke pintu depan.
“Kamu bener harus ke rumah temenmu itu, Kha?” ia bertanya. Aku tersenyum memandangnya.
“Iya, Kak. Dia sedang sakit, jadi Rakha harus ikutan besuk,” jawabku, berbohong.
“Jangan pulang terlalu malam, Kha. Kakak sendirian di rumah.” Aku tertawa mendengarnya.
“Dah mau bikin skripsi kok masih penakut kayak anak kecil, sih?” candaku yang langsung disambut dengan cubitan kecil di lenganku. Aku meringis pelan lalu mencium punggung tangannya dan berjalan keluar pagar.
“Hati-hati di jalan, Kha!” kata kakak, sedikit berteriak. Aku menoleh dan memberikan senyum paling menentramkan sedunia. Kulihat kakakku yang cantik itu tersenyum balik dan masih memandangiku hingga aku berbelok di sudut jalan.
Tak kukira malam itu aku akan membuat kakak terkejut setengah mati. Berawal dari pintu yang digedor jam 1 malam, kakak terbangun dari tidurnya. Bergegas ia membuka pintu setelah mengenakan jilbab kaosnya. Di depan pintu, tampak aku yang sedang tidak sadar dipapah oleh dua orang temanku. Kakak langsung pucat pasi melihat keadaanku.
“Kenapa dengan Rakha? Dia kenapa?” tanya kakak pada teman-teman yang membawaku pulang. Mereka meletakkan tubuhku di sofa ruang tamu dan tidak menjawab.
“Hei, ada apa dengan Rakha?” dia bertanya lagi, agak histeris.
“Nggak tau, Kak. Tiba-tiba dia pingsan gitu, overdosis kali,” jawab salah seorang temanku. Mata kakakku seketika membelalak.
“Overdosis? Rakha? Nggak mungkin. Kalian harus menjelaskan dulu,” kata kakak pada mereka. Tapi kedua temanku itu sudah terlebih dahulu berlari keluar, meninggalkan rumah kami.
Kakak terduduk di sampingku dengan kecemasan luar biasa. Ia menepuk-nepuk pipiku agar kesadaranku kembali. Ia memanggil-manggil namaku dengan begitu khawatir. Baru kusadari keberadaannya di sampingku ketika titik-titik air  matanya jatuh di wajahku.
“Kakak...,” rintihku pelan. Ia menatapku dengan mata basah.
“Iya, Kha. Kakak di sini. Kamu kenapa?” ia bertanya dengan sedikit terisak.
“Rakha... Rakha... Uhk, uhk!” aku terbatuk dan menutupkan tanganku ke mulut. Tak kusadari cairan merah kental keluar dari mulutku, membasahi tanganku.
“Rakha!” jerit kakak yang shock melihatku batuk darah. Ia mengusap darah di dagu dan bibirku dengan jilbab putih kaosnya. Tangisnya semakin menjadi sementara aku kembali tidak sadarkan diri.
Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, tapi saat aku terbangun, rasa sakit yang luar biasa menggodam kepalaku. Aku melihat sekelilingku. Ternyata aku sedang terbaring di ruangan yang berseprai dan bergorden putih, dengan bau obat yang tercium samar. Hah? Aku ada di rumah sakit? Batinku terkejut. Aku mencoba mengangkat tubuhku tapi rasa pusing yang teramat sangat membuatku kembali jatuh ke atas tempat tidur. Sakit sekali, rasanya kepalaku mau pecah.
Pintu ruangan ini tiba-tiba terbuka. Kakakku masuk, diiringi Kak Fauzan, teman kuliahnya. Ia langsung menghampiriku yang sedang merintih memegangi kepalaku yang sakit.
“Rakha, kamu sudah sadar? Kepalamu sakit?” dia bertanya dengan kecemasan yang sama dengan saat ia melihatku muntah darah. Aku hanya memejamkan mataku, kesakitan. Ia menoleh memandang Kak Fauzan. Dengan tanggap Kak Fauzan keluar dari kamar dan memanggil dokter. Tak berapa lama, ia kembali dengan seorang dokter dan susternya.
Dokter itu memeriksa keadaanku, lalu ia menyuntikkan cairan bening ke dalam selang infusku. Susternya mengukur tekanan darahku dan mencatatnya. Setelah selesai, dokter berkata,
“Ini hanya efek narkoba yang semalam dia konsumsi. Untuk sementara adik Anda akan sedikit kesakitan seperti tadi. Tapi saya sudah memberikannya obat penghilang rasa sakit. Akan efektif mengurangi derita sakit kepalanya.” Kemudian dokter dan susternya keluar, meninggalkanku bersama kakak dan Kak Fauzan.
Rasa sakit di kepalaku mulai berkurang perlahan. Aku sudah bisa membuka mata sepenuhnya. Kutatap wajah kakak yang cemas. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, yang kuyakini sebagai akibat ia terjaga sepanjang malam. Ia kelihatan begitu lelah dan ada sedikit bekas air mata di sudut matanya.
“Gimana Rakha bisa ada di sini?” aku bertanya. Kakak melangkah mendekatiku.
“Setelah kamu pingsan lagi semalam, Kakak menghubungi Kak Fauzan supaya bisa membantu Kakak membawamu ke rumah sakit. Alhamdulillah, kami tidak terlambat membawamu ke sini,” jawabnya sambil mengusap rambutku. Lalu kami sama-sama terdiam, sampai akhirnya aku membuka suara.
“Maafin Rakha, Kak...,” kataku parau.
“Kenapa Rakha? Kenapa kamu jadi kayak gini?” kakak bertanya lirih. Aku menghela napas berat.
“Ini salah Rakha, Kak. Rakha sudah terjerumus hingga akhirnya jadi seperti ini. Rakha benar-benar menyesal.” Kakak memandangku dengan mata berkaca-kaca.
“Sejak kapan, Kha?” ia bertanya lagi.
“Rakha nggak tahu kapan persisnya. Tapi Rakha sudah mulai kecanduan saat kelas 1 SMA,” aku mengaku. Kakak tampak seperti hampir kehilangan keseimbangan. Kak Fauzan memapahnya hingga duduk di kursi di sebelah tempat tidurku. Kakak menutup wajahnya yang kutahu bersimbah air mata. Ia terisak, bahunya terguncang-guncang.
“Maafin Rakha, Kak. Rakha menyesal...” lirihku seraya meraih tangannya dan mengusap air matanya. Ia mulai tenang dan menatapku lagi.
“Papa dan Mama tahu?” tanyaku kepadanya. Ia menggeleng lemah.
“Kak, Rakha mohon... Jangan sampai Papa dan Mama tahu. Mama punya penyakit jantung, Kak. Rakha nggak mau mereka kecewa melihat keadaan Rakha sekarang,” aku memelas, memohon kepadanya.
“Kakak tahu. Tapi kamu harus memperbaiki diri, Rakha. Jauhi obat haram itu, kecuali kamu mau melihat keluargamu hancur,” kakak berkata, tegas. Aku terhenyak mendengarnya.
“Rakha berjanji, Kak,” janjiku padanya, kugenggam tangannya yang bergetar karena menahan isak tangis, “Rakha berjanji nggak akan deket-deket obat itu lagi, demi kakak, demi mama dan papa.”
“Demi dirimu sendiri juga, Kha,” kakak berkata pelan sambil balas menggenggam tanganku.
Begitulah, aku akhirnya belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri, lebih menghormati hidupku yang hampir tersia-sia karena beberapa gram bubuk heroin. Kakak benar-benar tidak memberitahu orang tua kami. Ia hanya mengingatkanku agar tidak lagi bergaul dengan teman-teman dan lingkungan yang bisa mengajakku kembali ke jurang kenistaan. Aku pun menuruti pintanya untuk ikut acara-acara keagamaan di kampusnya, berkumpul dengan saudara-saudara seiman untuk mempelajari ilmu agama dan meningkatkan ketakwaan. Agak berat memang awalnya, tapi kakak senantiasa menyemangatiku. Kemudian segalanya menjadi lebih mudah kujalani, terlebih saat Kak Fauzan menjadi murobbiku. Ia, yang telah kuanggap sebagai calon kakak iparku ternyata sangat baik memahami dan membimbingku kembali ke jalan yang lurus. Aku jadi merasa sangat tertolong untuk menjauh dari kecanduan dengan berada di tengah-tengah komunitas yang mampu membangkitkan ghiroh ke-Islamanku.
Meski demikian, suatu saat aku kembali jatuh di lubang yang sama. Di tengah keadaanku yang stres menjelang Ujian Akhir Nasional, aku bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah memperkenalkan narkoba kepadaku. Mulanya aku menolak tawaran mereka. Tapi kerinduanku pada bubuk putih itu, dan keinginanku untuk tampil cemerlang saat ujian membuatku menghisap bubuk itu lagi. Namun, kali ini mereka mengajakku mencoba cara baru menikmati heroin, yaitu dengan jarum suntik. Parahnya, aku langsung mencoba menyuntikkannya di pembuluh darah leherku, karena kuyakini itu cara tercepat bagiku untuk ‘fly’. Efeknya langsung terasa beberapa menit setelah injeksi. Rasa bahagia luar biasa memenuhi otakku. Aku berteriak sekeras-kerasnya karena saat itu aku merasa sangat hebat, seolah aku bisa mengerjakan ratusan soal ujian saat itu juga. Entah kenapa, di tengah kegilaanku itu, aku teringat kakakku. Terbayang wajah pucatnya yang mencemaskan keadaanku. Aku tersadar sejenak, tapi bayangan setan lebih kuat mendekapku. Aku pun kembali jatuh ke dalam luapan rasa gembira imitasi hasil suntikan heroinku.
Aku kembali masuk rumah sakit beberapa hari menjelang kelulusan. Dokter mengatakan bahwa pembuluh darah leherku mengeras akibat heroin yang sering kusuntikkan. Yang kusesali, kali ini bukan hanya kakak saja yang kecewa. Papa marah besar padaku. Beliau berteriak-teriak padaku yang terbaring di rumah sakit, mengatakan aku mempermalukan keluarga, merusak diri sendiri, dan banyak lagi. Tapi yang menyesakkan batinku, Mama langsung kumat penyakit jantungnya saat tahu bahwa aku adalah seorang pecandu heroin. Wanita yang kucintai itu pun masuk ICU karena penyakitnya, penyakit yang dibuat anaknya sendiri.
Sungguh kasihan aku melihat kakakku. Ia harus bolak-balik antara kamarku dan ruangan ICU tempat Mama dirawat untuk menjaga kami berdua di tengah-tengah kesibukannya menyusun skripsi. Sering aku melihatnya tertidur ketika sedang menungguiku di rumah sakit. Tak sepatah kata pun terucap darinya saat merawatku. Aku paham, kekecewaannya padaku pasti lebih parah daripada kekecewaanku pada diriku sendiri.
Malam itu, cuaca di luar sedang tidak menentu. Angin bertiup kencang sekali hingga kaca jendela kamarku di rumah sakit berderak. Guntur sesekali menyambar, menimbulkan kilat yang menyilaukan mata. Tapi langit tak kunjung menurunkan hujan. Tiba-tiba pintu kamarku menjeblak terbuka. Kakak masuk dengan wajah yang sangat pucat dan ketakutan. Terengah-engah dia menarik kursi rodaku dan menyuruhku bangun dari tempat tidur.
“Kha, ikut kakak. Cepat!” perintahnya dengan suara bergetar. Aku bangkit dari tempat tidur dan perlahan duduk di kursi rodaku.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanyaku saat kami sudah berada di koridor rumah sakit. Kakak tidak menjawab. Ia hanya mendorong kursi rodaku lebih cepat menuju tempat yang tidak kuketahui.
Lima belas menit kemudian, kami berada di depan ruangan ICU. Aku langsung tersadar akan alasan aku dibawa ke sini. Ah, pikiran jelek ini langsung kubuang. Pasti Mama baik-baik saja.
Di atas ranjang putih, berselimutkan kain yang juga putih, Mama terbaring. Aku tak bisa menarik napas, tapi aku lega saat kudengar suara Mama memanggil.
“Rakha...,” panggilnya lemah. Kakak mendorong kursi rodaku mendekati tempat tidurnya.
“Maafin Rakha, Ma. Rakha menyesal,” kataku dengan air mata yang sekuat mungkin kutahan.
“Iya... Mama maafkan. Jaga kakakmu, Kha, juga dirimu... Belajar yang baik, Nak, Mama ingin kamu menjadi orang yang sukses...,” beliau berkata pelan seraya menarik napasnya yang tinggal satu-satu.
“Mama...,” lirih kakakku. Air matanya sudah mengalir di pipi.
“Kalian harus saling menjaga,” Mama mengalihkan pandangannya kepada kakak, “bahkan kalau Mama sudah nggak ada.”
“Mama nggak boleh bilang begitu,” terdengar suara tegas Papa. Mama menatap suami yang dicintainya itu, lalu tersenyum. Wajah Mama yang putih tampak semakin pucat, perlahan ia memejamkan matanya.
“Mama!” aku dan kakak berteriak histeris. Tapi wanita itu sudah tak ada lagi, ia telah berpulang kepada Robb-nya. Aku menangis sambil menggenggam tangan Mama yang telah menjadi dingin. Kakak menangis sampai bagian depan jilbabnya basah oleh air mata. Sempat kulihat Papa yang juga menitikkan air mata, tapi roman mukanya mendadak mengeras.
“Kau!” tunjuk beliau padaku, “kau yang membuat ibumu sendiri meninggal! Anak macam apa kau ini!” bentaknya keras. Beliau hendak melayangkan tangannya ke wajahku tapi kakak menangkis tangan itu.
“Pa! Papa sadar nggak, mau mukul anak sendiri? Ini Rakha, Pa! Anak Papa!” teriak kakakku yang terkejut melihat kelakuan Papa. Papa menurunkan tangannya, lalu berkata,
“Dia bukan anakku lagi.” Kata-kata beliau bagaikan guntur yang mendera langit di luar. Kakiku mendadak lemas.
“Papa ngomong apa? Istighfar, Pa,” kakakku berusaha menenangkan.
“Keluar kau dari ruangan ini!” Papa membentakku lagi.
“Pa, kalau Papa mengusir Rakha, berarti Papa juga mengusir Fiya,” kata kakakku serak.
“Pergi saja kalau kau mau. Urus adikmu yang tidak tahu malu itu. Pembunuh ibunya sendiri! Dia bukan anakku lagi,” Papa mengulangi kalimatnya. Aku langsung bereaksi begitu mendengar kata-kata beliau.
“Rakha bukan pembunuh Mama!” teriakku keras. Aku berusaha bangkit dari kursi rodaku sambil mengepalkan genggamanku. Kakak berusaha menahanku tapi Papa sudah lebih dulu bertindak. Kepalan tangannya yang lebih besar menghantam sisi kepalaku.
“Papa! Papa nggak boleh mukul Rakha!” kakak menahan tangan Papa yang sudah terangkat lagi. Papa melepaskan tangannya dan seketika menampar kakak.
Kakak terdiam sambil meraba pipinya yang memerah. Aku langsung naik darah, tapi kakak menahan bahuku.
“Kau membela dia, berarti kau juga bukan anakku,” Papa berkata dengan marah. Kakak tersentak.
“Pergi kalian...,” sambung Papa akhirnya. Kakak menunduk dan mendorong kursi rodaku keluar ruangan. Aku pun sudah tidak mempunyai daya lagi. Kakak membawaku kembali ke kamar.
Aku merasakan betul apa yang dirasakan kakak. Apa lagi yang bisa dirasakan dua anak yang tidak lagi diakui ayahnya, selain rasa sakit? Kakak tentu berharap kemarahan dan kekecewaan Papa atas kematian Mama akan mereda. Tapi nyatanya tidak, kami diusir keluar dari rumah dan bahkan tidak diperkenankan mengurus dan mensholatkan jenazah Mama. Aku benar-benar ingat saat kami harus bersabar menunggu di balik pohon, menanti rombongan yang mengantar jenazah Mama ke pemakaman pulang. Tak tergambarkan sedih yang kami rasakan saat kami duduk di samping makam Mama dan berdoa untuknya
Kak Fauzan membantu mencarikan kontrakan untuk kami. Aku sangat kagum pada kakakku yang mampu menyelesaikan skripsinya dalam masa-masa sulit seperti ini. Masa di mana ia harus pontang-panting mencari tambahan uang untuk hidup kami berdua sementara tabungannya semakin menipis. Aku sangat berbahagia ketika ia pulang dengan senyum di wajah, senyum pertamanya sejak beberapa kejadian kemarin. Ia memberitahukan bahwa ia diumumkan sebagai mahasiswa terbaik di jurusannya saat yudisium. Tapi senyum itu segera pudar saat ia sadar bahwa orang tua kami tak bisa turut berbangga hati melihatnya diwisuda sebagai sarjana akuntansi terbaik di angkatannya. Aku hanya bisa menggenggam tangannya, menguatkan hatinya agar tetap bersemangat menghadapi hari.
Setelah aku cukup sehat, aku mulai mencicil belajar untuk ikut tes masuk perguruan tinggi. Namun aku sadar, tak ada satu pun universitas yang mau menerima bekas pecandu seperti aku. Maka aku berusaha keras untuk hidup sesehat mungkin. Aku bertekad untuk menghilangkan bekas-bekas obat haram itu dari tubuhku. Setahun kemudian, setelah dokter menyatakan aku sehat dan bersih dari narkoba, aku baru berani mendaftar masuk universitas. Aku pun mencari informasi beasiswa agar nantinya aku tidak lagi menyusahkan kakak dengan biaya kuliah. Aku tidak ingin merepotkan kakak lebih banyak lagi terlebih saat ia menolak lamaran Kak Fauzan.
Siang itu Kak Fauzan bertandang ke kontrakan kami. Aku paham bila ia ingin berbicara pribadi dengan kakak. Tak sengaja aku mendengar percakapan mereka. Kak Fauzan ingin mengkhitbah kakak, dengan pertimbangan bahwa mereka sudah lulus kini, dan Kak Fauzan sudah dikontrak sebuah perusahaan asing. Akan tetapi, dengan halus kakak menolaknya. Kakak beralasan bahwa ia masih punya kewajiban untuk mengurus pendidikanku, lagipula ia tak bisa meminta Papa untuk menjadi wali nikahnya. Walaupun Kak Fauzan mengatakan bahwa mereka bisa berusaha bersama-sama, kakak tetap tidak bisa membuat Kak Fauzan menanggung beban ini juga.
Maka dari itu, aku berusaha keras untuk mengurus pendidikanku sendiri. Segala macam tes kuikuti, dengan harapan bahwa kakak tidak perlu mencemaskan pendidikanku lagi. Ketika akhirnya aku diterima di sebuah perguruan tinggi kedinasan, aku sangat gembira. Kuberitahu kakak bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan biaya pendidikanku, karena aku akan kuliah gratis. Kuberitahu pula bahwa ia tidak perlu lagi menolak lamaran Kak Fauzan, tapi dengan bijak kakak berkata,
“Menikah itu pasti, Kha. Yang belum pasti adalah kapan dan dengan siapa.” Ketika aku membicarakan Kak Fauzan, kakak malah menghindar. Padahal aku tahu bahwa mereka berdua tentu saling mencintai. Ya Alloh, apakah aku menghalangi kakakku menikah?
Aku bertekad untuk memenuhi permintaan terakhir Mama yang menginginkanku untuk belajar dengan baik. Sekali lagi, kecerdasan warisan Papa amat berguna. Kakak juga sudah bekerja sebagai akuntan publik sekarang. Ia pun sering memberiku tambahan uang jajan walaupun aku sudah melarangnya. Aku sudah bisa mencari uang sendiri dengan mengajar privat beberapa anak SMA sehingga bisa mencukupi kebutuhan pribadiku dan sedikit kebutuhan makan kami.
Selepas kelulusanku dari perguruan tinggi kedinasan itu, aku ditempatkan sebagai pegawai di lingkungan BPK dan mulai meniti karirku sebagai auditor. Aku benar-benar tertarik dengan pekerjaan ini karena aku memperhatikan kakakku yang sering memeriksa laporan keuangan perusahaan-perusahaan dan mengauditnya untuk keperluan manajerial. Agak beresiko memang, tapi kakak selalu menasehatiku agar idealisme dan kejujuran yang kuperoleh dari kampus tetap berdenyut dalam nadiku di manapun aku ditempatkan.
Alhamdulillah instansi tempatku bekerja memberiku keleluasaan untuk mengambil kuliah S1 dan S2. Selama pendidikan S2-ku di kelas ekstensi sebuah universitas, aku hanya diberikan pekerjaan di dalam kota, sehingga kerja dan kuliahku dapat berjalan seiring. Selama bekerja, aku banyak menemukan kasus yang unik dan kebanyakan beresiko, contohnya saja penggelapan pajak oleh salah satu subbidang sebuah departemen pemerintah. Semuanya membuatku merasa tertantang untuk terus mengorek kebusukan yang menggerogoti keuangan negara ini.
Pada tahun terakhirku kuliah, aku harus menyusun tesis. Aku lalu mengambil contoh kasus dari laporan keuangan sebuah instansi besar milik pemerintah yang sejak dulu kucurigai, sekalian menyelesaikan tugasku dan tim yang memang ditugaskan mengaudit lembaga itu. Dalam tugasku itu, tim menunjuk seorang akuntan publik untuk menjamin independensi, dan ternyata kakakku yang memperoleh tugas itu.
Kami bahu membahu menyusun rencana untuk menyelidiki kebohongan besar yang ditutupi oleh laporan keuangan yang senantiasa menunjukkan saldo balance. Tapi hal itu tidak mudah, karena dewan pimpinan instansi itu menghalangi kami untuk meperoleh kebenaran. Begitu sulitnya, sampai aku harus memperpanjang waktu pembuatan tesis.
Maka dari itu, aku beserta tim langsung melonjak gembira saat kami mendapatkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pengurus instansi itu sudah menipu pemerintah selama bertahun-tahun karena kerugian negara yang mereka timbulkan sangatlah besar. Namun sekali lagi kami memperoleh perlawanan sengit. Instansi itu menuduh kami tidak menjalankan prosedur auditing yang sesuai dan mereka merasa dirugikan dengan opini yang kami keluarkan terhadap laporan keuangan mereka. Entah mengapa, masalah ini menjadi besar karena mereka tiba-tiba menuntut tim auditor dengan tuduhan tidak profesional dalam menjalankan tugas sehingga mereka merasa nama baik instansi telah dicemarkan oleh laporan tim kami yang menyatakan bahwa lembaga tersebut sudah ‘tidak sehat lagi’.
Masalah ini kemudian diperkarakan ke pengadilan. Aku sebagai ketua tim harus bertanggung jawab atas kinerja kami, maka kami semua didudukkan di muka hakim. Semuanya kian sulit saat kami harus menghadapi tuduhan yang tidak pernah kami lakukan. Perlindungan dari BPK juga tidak terlalu kuat untuk menolong kami. Ketika semuanya sudah berbalik arah melawan kami, tiba-tiba kakak berdiri di depan hakim.
“Saya adalah akuntan publik yang berkewajiban menjamin independensi tugas tim auditor ini. Tim dari BPK ini telah menjalankan proses audit yang sesuai, dan sayalah yang bersalah apabila tuduhan itu benar karena saya yang seharusnya mengawasi kinerja mereka.”
Aku memelototi kakak, tapi tak sedikit pun ia bergeming. Proses peradilan kembali bergulir, dan fitnah yang teramat kejam dialamatkan kepada kakak. Ia dituduh tak berhasil melaksanakan tugasnya dan itu berakibat pada kerugian yang (katanya) diderita instansi korup itu. Begitu sakit hatiku ketika kakak didakwa atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan. Ia pun divonis penjara sementara aku dan timku dibebaskan dari semua tuduhan. Namun ia tak gentar menghadapi semua itu. Aku pun berusaha mengajukan banding untuk membebaskan kakakku. Tapi rupanya lembaga peradilan negara ini masih terlalu buta untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.
Aku mengunjunginya di penjara, memarahinya karena pernyataannya yang begitu berani di hadapan hakim. Ia tersenyum dan berkata,
“Rakha, kakak sudah tahu kita tidak akan menang menghadapi ‘orang-orang kuat’ seperti mereka. Jika salah satu dari kita tidak berkorban, maka seluruh tim akan masuk penjara.”
“Tapi kenapa harus kakak?” tanyaku agak emosi.
“Kalau bukan kakak, pasti kamu yang akan kena masalah karena kamu adalah ketua tim. Kakak cuma menjalankan amanah Mama untuk menjagamu, lagipula tesismu harus diselesaikan,” jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Rakha berjanji akan mengeluarkan kakak dari tempat ini. Kakak sabar, ya,” aku menguatkan hatinya, memberinya sedikit semangat. Ia mengangguk dan memberiku pandangan yang menentramkan.
Aku kemudian mengulang penelitianku, mencari celah kelemahan instansi itu. Beruntung rekan-rekan setimku banyak membantu, seniorku di BPK juga turut serta. Bersama-sama kami membongkar lagi kasus itu, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Pimpinan instansi itu tidak menyangka kami akan melakukan serangan balik, terlebih usaha kami ini mendapat persetujuan langsung dari kepala departemen tempat instansi itu bernaung. Tak lama setelah kasus itu dibawa lagi ke pengadilan, kami akhirnya memperoleh kemenangan. Aku sangat bahagia membayangkan kakakku akan segera merasakan kehangatan rumah kami lagi.
Saat mengunjunginya di penjara, aku menggenggam tangan kakakku yang sebentar lagi akan bebas dan namanya akan dibersihkan. Kulihat senyum lebar di raut wajahnya yang sedikit kehilangan cahaya akibat hidup di dalam sel.
“Kakak bangga kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri,” ia berujar. Kutatap matanya yang terlihat begitu lelah.
“Kakak sakit?” tanyaku cemas. Kakak menggeleng.
“Kakak cuma masuk angin, sebentar lagi juga sembuh,” katanya menenangkanku. Aku lalu menyemangatinya untuk sabar menanti hari kebebasan.
Hari yang kami tunggu itu pun tiba. Setelah menandatangani surat pembebasannya, kakak segera menghampiriku yang datang menjemputnya. Ia masih tampak begitu cantik walaupun wajahnya cekung karena beberapa bulan berada di penjara. Aku menyiapkan kejutan begitu kami tiba di rumah. Balon-balon beraneka warna menyambut kedatangan kakakku. Aku masih sangat ingat bahwa ia begitu menyukai balon sejak masa kanak-kanaknya. Kakakku benar-benar tertawa saat itu, ia sangat berbahagia bisa berada lagi di rumah dan berkumpul lagi dengan adiknya. Namun aku tidak menyangka, itu adalah tawa terakhirnya.
Hari-hari berikutnya, aku memperhatikan kakak yang tampak kurang sehat. Saat kutanya ia menjawab hanya masuk angin biasa. Betapa terkejutnya aku, saat pulang dari kantor, aku mendapati kakak terbaring pingsan di lantai.
Secepat mungkin aku membawanya ke rumah sakit. Dokter menjelaskan bahwa kakak terserang ISPA, sehingga kondisi tubuhnya lemah sekali. Malam itu aku menemaninya di rumah sakit, untunglah ia cepat siuman dari pingsannya.
“Kakak senang kamu bisa melaksanakan pesan Mama untuk menjaga kakak,” ia berkata lemah.
“Itu memang kewajiban Rakha. Kita memang harus saling menjaga dan melindungi, kan?” Pertanyaanku itu dijawab dengan anggukan setuju dari kakak. Aku menyuruhnya beristirahat agar tubuhnya bisa kembali segar. Ia pun menutup matanya.
Menjelang subuh, aku terbangun dari sofa di kamar tempat kakak dirawat. Aku ingin membangunkan kakak untuk sholat bersama. Tapi saat kuperhatikan wajah tidurnya yang begitu tenang, aku menjadi curiga. Kupegang tangannya yang kini sedingin es, wajahnya begitu putih, persis wajah Mama saat...
Aku langsung menghambur keluar, mencari dokter yang sedang berjaga. Dokter segera memeriksa denyut nadi kakak, mengecek napasnya, tapi kemudian dia berbalik menghadapku dengan ekspresi prihatin.
“Maaf, tapi kakak Anda sudah meninggal,” ia berkata pelan. Aku tersentak kaget.
“Nggak mungkin, Dok. Semalam dia masih baik-baik saja. Kakak nggak mungkin meninggal!” aku berkata histeris. Dokter lalu menepuk pundakku.
“Anda harus bersabar menghadapinya,” kata dokter sambil berlalu dari ruangan itu, meninggalkanku yang kini menangis di samping tubuh kakak yang mulai membeku.
~oOo~
“Elo udah nyiapin bahan-bahan supervisi kan, Kha?” tanya Prima, membuatku tersadar dari kenangan masa lalu.
“Eh, iya,” jawabku agak tergagap. Pikiranku masih tertuju pada kakak. Rupanya Prima memperhatikan ekspresi wajahku.
“Lo begitu menyayanginya, ya? Kakak lo emang bener-bener berarti buat lo, kan?” ia bertanya lagi. Aku sebetulnya tidak perlu menjawab pertanyaan retoris itu, karena aku teramat sangat menyayangi kakakku itu.
“Dia bukan sekedar kakak. Dia adalah pahlawanku. Setelah semua pengorbanan yang ia lakukan demi diriku, aku benar-benar menyadari bahwa ia begitu berharga, begitu sempurna ia menjalankan perannya sebagai kakak yang senantiasa menjagaku.”
“Sayang dia nggak sempet liat anak lo. Kalau dia liat ponakannya itu, mungkin dia bisa bandingin dengan kenakalan lo waktu masih kecil,” senyum Prima padaku. Aku melotot padanya.
“Jadi maksud lo, anak gue nakal, gitu?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.
“Hei, hei, sejak kapan lo pake bahasa ‘lo-gue’?” tanya Prima sambil terkekeh. Aku sendiri tertawa mendengarnya.
Mobil pun melaju membelah jalan raya yang akan mengantarkan kami menuju kantor. Melaju bersama kenanganku tentang kakak yang selamanya tak akan hilang dari ingatanku. Kakak, aku merindukanmu...

Palembang, 19 Oktober 2007, 00:44

Minggu, 12 Oktober 2014

[Jalan-Jalan] Hacked Honeymoon by Juventus Singapore Tour

Hmm, di-challenge Ayang buat nulis tentang jalan-jalan ke Singapore dua bulan lalu. Ayang pengen tau perasaan q yang sebenarnya tentang perjalanan 4 hari 3 malam di negara Merlion itu. Baiklah, marilah kita mulai sesi pertama cerita jalan-jalannya.

Ayang itu Juventini sejati, ya, sejak awal mengenalnya aq sudah tahu itu. Dulu aq pikir ngefansnya Ayang ke Juve itu sama kayak jaman aq ngefans pas SMP dulu: rela begadang buat nonton laga Serie A, nabung buat beli poster pemain, sengaja ke Gramed buat beli tabloid Soccer, plus berantem sama temen yang Interisti (hahaha). Ternyata pemikiran q itu salah besar, Juve bukan sekedar klub bola, melainkan lifestyle buat Ayang. Bela-belain streaming buat nonton pertandingannya mah sooo yesterday, kesukaan Ayang pada Juve lebih dari itu. Gak percaya? Coba lihat koleksi jersey-nya yang berharga "jut-jut" itu.
Ini dia jemuran Ayang di rumah
Makanya, saat Ayang bilang Juve bakal tanding di Singapore dan ia pengen nonton, aq sudah mafhum. Tapi bener-bener gak nyangka kalau Ayang serius dengan niatnya ini. Beberapa kali aq nyeletuk, tunggu di GBK aja, mana tahu Juve-nya tanding di Indonesia juga, tapi Ayang yakin seribu persen kalau kesempatan Juve tanding di Indonesia itu kemungkinannya kueciiiiiiill buangeeeeett, gak ada kepastian dari promotor soalnya (beberapa bulan kemudian keyakinan ini ditumbangkan oleh kedatangan Juve ke Jakarta). Beberapa kali pula aq sengaja menunda-nunda hunting tiket murah, pengennya supaya bisa dipertimbangkan lagi, tapi tekad Ayang sudah bulat. Dan dengan rayuan dan iming-iming second honeymoon di Singapore, aq luluh juga dan membiarkan kartu kredit yang bekerja. Apakah iming-imingan itu terbukti? Kita tunggu kisah selanjutnya.

Lanjuuuutt. Kami pun mulai merencanakan perjalanan ke Singapore. Oiya, aq setuju dengan perjalanan ini karena Ayang bersedia menanggung semua akomodasinya. Sedih juga si ngeliat beberapa jersey-nya dijual ke mana-mana, tapi kata Ayang "for the greater good", jadi ya sudahlah, aq tinggal nyari gimana cara ngabisin duit penjualannya, hehehe. Yang bikin Ayang semangat banget adalah ia memenangkan tiket Meet and Greet Juventus di Singapore. Wuih, tambah heboh lagi persiapannya. By the way, aq sempat ngambek soal kontes MnG ini. Pasalnya, Ayang menang setelah mem-posting surat cinta panjang tentang Juve, huhuhu, aq yang istrinya ini malah belum pernah dikirimin surat cinta. Akhirnya untuk meredakan ngambek q, Ayang berjanji akan menuliskan surat cinta buat q (yang sampai saat ini belum aq terima T__T). Nah, menjelang hari keberangkatan, datanglah berita gembira untuk kita semua: Juventus bakal datang ke Jakarta! Rasanya pengen banget ngeleletin lidah ke Ayang, weeeeekk :P. But guess what? He also wanted to watch the match at GBK! Wah, mewek-meweklah aq, pertandingan di GBK itu pas banget kami sedang liburan di Palembang. Segala upaya Ayang kerahkan untuk membujuk q, tapi aq bergeming (dan mewek). Akhirnya disepakatilah bahwa liburan di Palembang tidak bisa diganggu gugat untuk alasan apapun. Tok! Tok! Tok! (ketok palu).

Lalu berangkatlah kami ke Singapore. Deg-degan pastinya (hahaha, katrok banget), karena ini perjalanan pertama kami ke luar negeri. Alhamdulillah Singapore adalah negara yang teratur, jadi kami tidak kesulitan selama wara-wiri di sana. Ada beberapa hal yang patut di-highlight selama berlibur ke Singapore:
1. Ayang rela desak-desakan plus lari-lari mengejar pemain Juve saat mereka landing di Changi. Saat melihat berita tentang orang rame desak-desakan saat ngantri Blackberry diskon, aq ngerasa biasa aja. Namun saat melihat Juventini rame nunggu pesawat Juve landing, aq ciut. Rame bingit booo! Saat itu, Ayang langsung ribet ngeluarin jersey buat ditandatangani dan spanduk buat menyambut para pemain Juve. Aq? Ya aq berurusan dengan kamera dan ngejagain tas. Awalnya aq pengen duduk-duduk aja di lobi Changi yang nyaman, tapi ngeliat Ayang riweuh sendiri dengan seabrek atributnya, aq ikutan berdiri di tengah keramaian para Juventini. Banyak bule yang penasaran sama rombongan item-putih ini, sempat ada beberapa yang nanya dan minta foto-foto dengan spanduk yang dibawa Ayang, tapi ada juga beberapa yang gak tau Juventus itu apa, hahaha. Setelah agak pegel berdiri, akhirnya satu per satu pemain Juve keluar dari gerbang departure. Heboooohh! Para fans mulai meringsek sepanjang penjagaan security. Aq kedorong-dorong dan Ayang minta izin buat mengejar pemain Juve yang mengarah ke bus di luar. Pegel dan berbuah tanda tangan Marchisio, hehehe.
Nunggu Juve landing di Changi
2. Besok paginya, Ayang bela-belain dateng ke Hotel Fullerton buat nungguin pemain Juve dan minta tanda tangan. Nyampe Fullerton jam 7 pagi waktu Singapore alias jam 6 WIB trus bersama kakak pertama a.k.a Mas Pandu, Ayang turun ke lobi hotel. Sempet ketemu sama Chiellini, trus foto-foto dan tanda tangan jersey, sempet pula ditegur dan diusir security (hiks, shock waktu itu). Akhirnya nunggu di luar hotel yang sudah dikasih pagar pembatas menuju bus pemain. Lumayan lama nunggunya, dua jam lah, sementara di luar hotel pemandangannya bagus banget buat jalan-jalan :(. Tapi demi Ayang, profesi fotografer pribadi ini harus dijabanin. Alhamdulillah gak serame di Changi, Ayang dapet banyak tanda tangan dan aq menjepret banyak foto. Berhubung Ayang seneng, maka jalan-jalan hari itu bener-bener seru, bisa ke Merlion dan naik River Cruise. Aq bahkan gak protes saat kudu nunggu hampir dua jam lagi buat ngantri nonton open training Juve karena malamnya kami rekreasi romantis di atas Singapore Flyer.
Om, tanda tangannya om
Singapore National Stadium
Melihat pemandangan malam Singapore
3. Pagi kedua kongkow-kongkow di Fullerton (aslinya berdiri di depan lobi hotel), lumayan kaget karena Juventini yang nungguin udah rameeeeeee banget. Senyum Ayang sempat meredup saat melihat lebih dari 50 orang sudah stand by di sana. Maka aq pun menawarkan diri untuk ngejagain spot berdiri di depan pagar pembatas. Berkalungkan kamera dan bersenjatakan spidol, aq pelototin siapa aja yang berani geser-geser ke dekat q. Tibalah saat para pemain keluar dari hotel, woooohh, udah gak tahu lagi siapa yang kesikut pas aq angkat kamera tinggi-tinggi buat mengabadikan momen penandatanganan jersey Ayang. Jersey yang ditandatangani memang gak sebanyak hari sebelumnya, tapi yang berkesan adalah Ayang dapet tanda tangan Pirloooo, memang mirip Chuck Norris banget itu orang, gak ada senyumnya sama sekali (Pirlo is not impressed, hahaha lol). Memanfaatkan waktu sebelum MnG, aq dan Ayang jalan-jalan ke Gardens by The Bay, tapi karena pengen nyantai jalan-jalannya, kami sepakat tiket Flower Dome-nya dipakai setelah selesai MnG saja. Sesuai janji, pukul setengah 3 siang aq dan Ayang bertemu di stasiun MRT buat langsung ke GbTB, tapi aq kaget melihat wajah Ayang yang lesu saat bertemu. Olala, ternyata MnG-nya gak sesuai harapan, tanda tangan yang diincar pun tidak didapat. Aq berusaha menghibur Ayang dengan bilang kalau setelah ini kami akan senang-senang di GbTB sebelum Ayang nonton match Juve jam 6. Ayang lalu bilang kalau penukaran tiket match dilakukan jam 4, yang artinya Ayang gak bisa ke stadion tepat waktu kalau kami ke GbTB dulu. Hiks, dengan berat hati aq bilang supaya ke GbTB-nya gak jadi aja (SGD 36 buat berdua hangus T__T). Dan dari situ aq bilang supaya Ayang langsung ke stadion aja supaya gak telat, aq nanti pulang sendiri ke hotel. Ayang pun mengiyakan dan kami berpisah lagi. Sepanjang jalan sebenernya aq mau nangis. Pikiran semacam "second honeymoon apaan, isinya Juve semua, Ayang lebih mentingin Juve daripada aq, blablabla" berseliweran di kepala. Sampe di stasiun Lavender pun aq sempet linglung, lalu duduk sebentar dan menenangkan diri. Kemudian aq memutuskan untuk menyalurkan esmosi pada sekantung kentang goreng Wendy's yang aq beli di stasiun. Di hotel aq mencoba mencari-cari channel yang menayangkan pertandingan Juve, tapi gak ada. Sampai hampir jam 9 aq gelisah mondar-mandir menanti Ayang pulang. Saat terdengar suaranya di depan pintu, aq bergegas membuka kunci. Tapi yang aq dapati adalah wajah kucel berkeringat tanpa senyum. Rupanya misi pencarian tanda tangan tidak berhasil di pertandingan. Aq merasa menyesal sudah menghabiskan kentang goreng sendirian padahal Ayang belum makan sama sekali. Akhirnya kami keluar makan malam, tapi karena suasananya suram (Ayang gak semangat, aq bete), makannya jadi gak jelas, belanja di Mustafa Center pun tambah gak jelas.
Stand by
Juve's match
Sekarang bisa dipahami lah ya kenapa judul postingan ini "Hacked Honeymoon by Juventus Singapore Tour". Dari suka duka perjalanan ke Singapore, kami jadi semakin memahami sebagai pasangan suami istri. Ayang jadi semakin paham gejala-gejala ngambek q dan cara penanganannya, dan aq sedikit banyak jadi lebih memahami kesukaan Ayang pada Juventus. Next stop, kata Ayang, jalan-jalan ke Tokyo buat nyamperin toko jersey recommended di sana, hadeeeeehh. Eniwei, ditunggu surat cintanya ya sayang.. (Ayang pasti keselek baca kalimat terakhir ini)


[Dapur Uyung] Resep Chicken Cordon Bleu Homemade

Sumber: dokumentasi pribadi
Yak, postingan pertama setelah bertahun-tahun lamanya adalah resep Chicken Cordon Bleu. Masakan ini terinspirasi dari salah satu menu resto favorit di Bandara Soetta jaman LDR dulu. Untuk mengenang masa-masa itu, maka di ultah pernikahan kedua akhir Juni kemaren, jadilah masakan ini sebagai surprise buat Ayang. Porsinya yang gede bikin kenyang setelah seharian berpuasa. Yupz, tanpa basa-basi lagi, ini resepnya.

Bahan-bahan:
2 potong dada ayam tanpa tulang
2 slices smoked beef
100 gram keju quick melt, iris jadi beberapa slices
200 gram tepung roti
2 butir telur, kocok lepas
2 buah wortel, potong memanjang kurang lebih 3 cm tebal 0,5 cm
50 gram buncis, potong-potong kurang lebih 3 cm
200 gram frozen french fries
mentega untuk menumis
minyak untuk menggoreng
garam dan merica secukupnya

Cara membuat:
1. Belah dada ayam, jangan sampai putus. Lebarkan lalu taburi garam dan merica. Sisihkan.
2. Tumis wortel dan buncis dengan sedikit mentega. Sisihkan.
3. Goreng french fries. Sisihkan
4. Ambil dada ayam yang sudah dibumbui, Tata smoked beef dan keju di atasnya, lalu gulung.
5. Gulingkan gulungan ayam ke dalam telur kocok, lapisi dengan tepung roti. Ulangi langkah ini dua kali hingga seluruh permukaan ayam rata ditutupi tepung roti.
6. Panaskan minyak dengan api sedang, lalu goreng ayam yang sudah berbalut tepung roti. Usahakan ayam terendam dalam minyak agar warnanya merata. Tunggu hingga ayam berwarna keemasan, lalu angkat dan tiriskan.
7. Sajikan chicken cordon bleu dengan tumisan sayuran dan french fries. Selamat menikmati.

Gak sulit ya untuk bikin masakan ala restoran. Setelah bikin chicken cordon bleu ini, aq jadi paham kenapa harganya termasuk yang paling mahal di menu Sol*ri*, belanja bahannya lebih menguras kantong dibanding belanja di Mbak Sri (ya iyalaaaah :hammer). Tapi untuk hari istimewa, bolehlah dicoba, apalagi bikinan sendiri, rasanya juga gak kalah sama yang di restoran. Selamat mencoba ya!

Menulis lagi

Sumber: http://static.campaign.naver.com/0/campaign/2012/04/line_sticker/img/pc/en/img_moon5.png
Hiyaaaaahhh, dua tahun setengah berlalu sejak posting terakhir di blog ini. Nyatalah sudah, susahnya konsisten melaksanakan rencana menulis yang sudah digadang-gadang sejak lama. Salut buat temen-temen yang berhasil membesarkan blog-nya dan berbagi manfaat dengan tulisan-tulisannya. Bismillah, semoga semangat baru ini bisa mempermudah jari-jemari yang sudah lama tak menulis untuk mem-posting banyak hal yang bermanfaat, insya Alloh.

Kamis, 14 Juni 2012

[Bersama Ayang] H-16

14 Juni 2012...
hari ini aq memutuskan bahwa besok akan jadi waktu yang tepat untuk menyebarkan undangan.. sekaligus mem-publish dan meng-invite teman2 di FB..
undangan2 dah dipisahin,, ternyata jd sekardus, hehehehehe...
semoga yang diundang besok pada dateng.. amiin..

_saranghaeyo oppa_

Selasa, 07 Desember 2010

Prakata

Prakata... Yah, ibarat di buku, posting pertama di blog ini q harapkan dapat menjadi muqoddimah, kata-kata pembuka, dan penyambut semangat yang memulai jemari ini untuk mengetikkan kalimat. Blog ini adalah blog yang kesekian yang pernah aq buat. Sudah ada sekitar lima alamat blog lain yang aq punya dan berakhir dengan password yang terlupa dan kemudian tak pernah q buka. Semoga kali ini adalah kesempatan baik bagi q untuk mencoba membuat sebuah blog yang paripurna. 

Prakata kali ini akan q isi dengan sedikit perkenalan. Aq adalah seorang penggemar internet, yang kadang meninggalkan komputer kerja q dengan lima tab terbuka di browsernya. Internet menjadi tempat berbagi banyak hal, dan aq sangat terbantu olehnya. Update terbaru dari teman di FB, game online yang terbengkalai account-nya selama sebulan, resep masakan, dan selentingan-selentingan terbaru di koran versi online menjadi salah satu penyibuk waktu q di depan monitor. Sebuah site pembagi informasi membuat q termotivasi untuk menyusun sebuah blog, karena sang pembuat situs memiliki hobi berbagi informasi favoritnya kepada seluruh orang yang terhubung di internet melalui site-nya itu. Dari sanalah aq merasa perlu untuk menggabungkan sedikit bakat menulis  serta hobi q surfing dan mengoleksi link-link menarik agar blog ini tercipta. 

Blog ini beralamat summer-himawari.blogspot.com. Alamat ini sengaja q buat karena terdiri dari dua hal yang q suka, summer-musim panas dan himawari-sunflower-bunga matahari. Summer karena musim ini dilambangkan dengan warna kuning yang menyebarkan aura cerah dan keceriaan, perlambang matahari yang bersinar terang di negara nontropis selama tiga bulan setelah diawali dengan musim semi yang indah. Himawari karena bunga matahari adalah salah satu favorit q di antara ragam kerajaan bunga. Dengan himawari inilah aq menggambarkan diri q saat mata kuliah Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian, sebagai bunga matahari, sosok yang ceria dan mampu menebarkan bahagia bagi siapa saja. Kata himawari aq ambil sebagai wujud keinginan q mendalami bahasa dan budaya Negeri Matahari Terbit, di samping hobi q mengoleksi dorama dan sedikit manga di rumah. 

Ke depannya, aq mengharapkan konsistensi diri q pribadi untuk meramaikan blog ini. Walaupun mungkin blog ini akan terisi dengan curhat geje, tapi semoga ada info dan sedikit manfaat yang bisa aq berikan. Akhirnya, semoga posting ini menjadi penyulut semangat q untuk terus menulis dan belajar. Bismillah...