Rabu, 22 Oktober 2014

[Edisi Cerpen] Hidayah Pertamaku

Sebuah cerpen yang sudah lamaaaaa sekali q tulis. Berdasarkan kisah nyata dan pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan cerpen Tahun Baru Hijriyah. Semoga bisa memberikan hikmah dan menjadi perantara q bersyukur atas hidayah yang telah dikaruniakan Alloh kepada q.

HIDAYAH PERTAMAKU

            Deru motor ayahku terdengar berbaur dalam kungkungan angkot dan kendaraan pribadi yang melaju di jalan sempit ini. Dengan lincah, ayah meliuk-liukkan motornya di celah antarkendaraan. Selang beberapa menit, kami berhenti. Aku menapak turun dari motor. Setelah mencium tangan ayah dan mendengarkan kalimat “jangan nakal di sekolah”-nya sebentar, aku mulai melangkah menuju halaman yang dilatarbelakangi oleh sebuah gerbang. Langkahku semakin ringan dan gerbang itu seolah membuka untukku. Yah, inilah hari pertamaku menjadi siswi SLTP. Sebuah SLTP yang menjadi incaran sejak aku bersekolah di SD dulu...
            Aku melewati gerbang sembari tersenyum. Ku edarkan pandangan kepada ratusan siswa yang “bertebaran” di sekitar lapangan. Salam kenal, teman-teman baru, sapaku dalam hati. Aku lalu menuju papan pengumuman besar yang dikerubungi murid-murid. Papan pengumuman itu berdiri di depan ruangan yang pastilah merupakan ruang guru, dengan kursi-kursi dan meja-meja kayu yang saling berdempetan. Lembar-lembar kertas pembagian kelas sudah tertempel di papan hitam itu dan aku harus mendongak untuk membacanya. Yah, dengan tubuhku yang mungil ini dan kerumunan siswa di sekelilingku, aku memang perlu menengadahkan kepala, sambil berjinjit kalau perlu.
            Bingung memelototi nama-nama yang berbaris seperti semut itu, aku pun berpaling pada kertas lain yang tertempel di sebelahnya. Daftar peringkat NEM tertinggi yang diterima si SLTP bla...bla...bla..., bunyi judul di atasnya. Urutan pertama 45, 25 dan 0, 20 poin di bawahnya, tertera namaku di peringkat kedua. Ah, seandainya saja nilai itu sama dengan NEM bayanganku saat cawu dua kelas enam SD dulu, tentu akulah yang akan menduduki posisi pertama itu, dengan kelebihan beberapa desimal poin. Tiga orang anak di sebelahku sedang menunjuk-nunjuk kertas itu dengan decak kagum karena nilai ebtanas yang tertera di sana. Untuk sesaat, aku bangga karena orang yang namanya mereka tunjuk itu adalah diriku. Dan itulah kebanggaan pertamaku di sekolah ini.
            Kebanggaan keduaku terjadi pada saat perkenalan diri di kelas. Ketika aku menyebutkan namaku, kulihat  beberapa anak merapatkan kepala dan berbisik-bisik. Ah, tentu mereka sekarang tahu bahwa akulah si peringkat kedua itu. Dengan sangat percaya diri, aku kembali ke mejaku yang harus kubagi berdua dengan seorang anak perempuan yang baru beberapa hari kukenal. Selang beberapa saat, seorang cewek ABG bertubuh jangkung maju untuk berkenalan dengan seluruh penghuni kelas. Dari namanya, aku tahu dialah sang nomor satu itu. Kudengar bisik-bisik yang lebih keras dari sekitarku. Ia pun kembali ke bangkunya di belakang dengan diiringi tatapan mata anak-anak di kelas, termasuk aku. Satu persatu, aku melihat anak-anak lain peraih sepuluh besar NEM tertinggi maju berkenalan. Nyatalah bagiku, kelas 1.4 ini adalah kelas unggulan, kelas pilihan. Ini bisa terlihat dari banyaknya calon saingan yang nantinya pasti akan menghalangi langkahku untuk merebut posisi teratas di kelas bahkan di seluruh kelas satu.
            Ah, menjadi nomor satu adalah hal yang sudah tertanam dalam pikiranku sejak menginjak bangku sekolah. Kedudukanku sebagai anak pertama dalam keluarga, yang lebih didahulukan kepentingannya, menjadi akar obsesiku. Yah, itu adalah obsesiku, umm... obsesi orang tuaku juga sebetulnya, karena sejak balita aku sudah dididik dengan keras sehingga aku bahkan sudah lancar membaca koran sebelum duduk di kelas satu SD. Kecenderunganku untuk menjadi favorit guru membuatku semakin nyaman berada di sekolah, bahkan dulu aku pernah diminta menjadi asisten guruku untuk mengajar teman-teman yang lain mengeja kata-kata di papan tulis, padahal saat itu umurku baru tujuh tahun. Predikat juara satu setiap caturwulan selama enam tahun pendidikanku di sekolah dasar membuatku merasa lebih superior daripada yang lain.
            Oh ya, belum kukatakan bahwa aku benci dinomorduakan. Begitu bencinya sampai aku hampir-hampir tak akan bisa menerima sebuah kekalahan. Dan kini, aku tidak terima dijadikan peringkat kedua walaupun itu hanya tertera di sebuah kertas pengumuman. Sudah saaatnya bagiku untuk menunjukkan bahwa aku memang punya kemampuan lebih dibandingkan dengan orang lain.
            Minggu-minggu awal sekolah, aku berusaha membuktikan tekadku sekuat tenaga. Hasilnya, secara tidak resmi aku sudah menjadi murid kesayangan “Miss Cantik”, guru bahasa Inggris kami, disebabkan oleh kecakapanku ber-“structure and grammar’ yang dinilainya lebih di atas rata-rata. Yah, itu merupakan kemampuan yang sudah dipaksakan orang tuaku untuk kumiliki sejak kelas lima SD. Namun, mungkin itulah hal terbaik yang kudapati dari pelajaran di sini. Pelajaran-pelajaran dasar yang mulanya dengan mudah dapat kupahami karena masih berbasis pada pelajaran SD, mulai ditingkatkan levelnya. Aku pun gelagapan dengan cepatnya akselerasi bab-bab pelajaran yang dicekokkan guru-guru kepada kami. Sama halnya dengan pelajaran yang baru aku temui sekarang. Fisika, pecahan Ilmu Pengetahuan Alam, dengan konsep Gerak Lurus Beraturan dan Gerak Lurus Berubah Beraturannya yang sampai sekarang pun belum dapat kumengerti. Ekonomi, anak pelajaran IPS, dengan prinsip-prinsip menurut Keynes, Adam Smith, dan ekonom lainnya yang tak kukenal sama sekali. Sebenarnya, aku bisa saja bertanya kepada temanku yang kursus di bimbel tentang hal-hal semacam itu. Tapi kesuperioranku tegas-tegas melarang aku untuk bertanya karena adanya pasokan kebanggaan sebagai sang nomor satu yang masih terpatri dalam dada ini. Malu rasanya, harus bertanya kepada orang yang kemampuannya masih di bawahku, begitu kata batinku. Namun rasa gengsi itu tak bertahan lama, karena aku sudah semakin bingung dengan soal-soal persamaan linier matematika, dan mulai terlontarlah pertanyaan-pertanyaan kepada teman sekelasku, termasuk kepada kesembilan saingan terberatku.
            Siapa sangka bahwa pertanyaan-pertanyaan itu malah memancing rasa ketergantunganku pada orang lain. Dan mulailah aku mencontek. Hal yang selama ini kuanggap tabu, akhirnya kuhalalkan sendiri. Namun itu tak ada pengaruhnya bagi nilai-nilaiku. Aku yang biasanya alergi dengan angka enam ke bawah, akhirnya harus merelakan rapor bulananku berawan mendung. Bahkan dua ulangan fisika pertamaku mendapat nilai lima! Kulirik rapor teman-temanku, sebagian bernasib sama sepertiku dan aku masih bisa berbangga hati karena bukan hanya aku yang kecewa dengan nilai-nilai ini. Masih shock dengan pelajaran baru, hibur hatiku. Meskipun demikian, aku tetap merasa memiliki lebih banyak kepandaian dibanding mereka.
            Akhirnya tibalah saat pembagian rapor caturwulan pertama. Aku dan teman-teman yang sedang berkumpul di lapangan, sudah sejak tadi sibuk menebak-nebak siapa yang akan menjadi jawara kelas kami.
            “Ah, pasti kamu deh, Nia,” seorang teman menunjukku. Blup, gelembung besar kebanggaan menyembul di permukaan hatiku.
            “Iya, kamu kan juara satu terus waktu SD. Nggak bisa dikalahin deh, pokoknya,” dia semakin memujiku. Blup-blup-blup, bertambah banyaklah gelembung-gelembung gede itu. Mata teman-temanku yang lain berbinar dan mulut mereka membulat ber-ooh. Aku tersenyum saja menanggapinya padahal hati ini sudah ditenggelamkan buih-buih kebanggaan yang terus meluber.
            Setelah lama ditunggu, wali kelasku akhirnya datang juga dengan membawa segepok rapor dan tiga piagam penghargaan. Beliau mengawali seremoni pembagian rapor ini dengan “sepatah-dua patah kata” yang seperti menjiplak ceramah kepala SD-ku setiap kali upacara bendera. Dan bagian paling menyenangkannya adalah saat beliau memberitahukan berapa lama liburan akan berlangsung.
            Suasana kelas berubah menjadi tegang saat wali kelasku itu menyudahi wejangannya. Beliau mengeluarkan tiga rapor biru dan menyelipkan piagam di antara halaman-halaman ketiga rapor itu. Hatiku semakin tidak menentu saat beliau memanggil peraih ranking ketiga. Tepat seperti inilah momen yang kubenci dari setiap akhir cawu. Perasaan yang campur aduk antara cemas dan tegang, serta perut yang bergolak karena stres mulai menghantam diriku. Tapi, selama ini semua penderitaan itu diakhiri dengan senyum bahagiaku dengan piagam juara satu yang terselip di raporku. Kemudian... juara kedua maju ke depan kelas, dia adalah teman SD-ku sekaligus rival yang tak pernah kuanggap berbahaya sejak awal. Dengan harapan yang semakin membuncah, aku meremas-remas tanganku. Saingan semasa SD-ku saja bisa meraih ranking dua, apalagi aku, yang notabene sebagai juara bertahannya. Lalu nama penyabet jawara kelas ini sekaligus juara umum kelas satu disebutkan, tapi itu bukan namaku, melainkan nama cewek jangkung peraih NEM tertinggi itu. Kurasakan jantungku seperti mau melorot ke rongga perut dan keringat dingin mulai mengucuri leherku. Ah tidak, masih ada peringkat lima besar, aku kuat-kuatkan saja membesarkan hati, Dan seperti tahu apa yang kupikirkan, wali kelasku langsung menyebutkan nama-nama siswa yang mendapat peringkat empat, lima, enam... hingga sepuluh besar. Badanku semakin lemas mendengarnya. Tak sanggup kutatap mata teman-temanku yang tak kuperbolehkan melihat apalagi menyentuh raporku. Apa pandangan mereka sekarang, saat tahu bahwa aku, yang terbiasa memeperoleh gelar juara, malah mendapat peringkat yang tidak sepadan dengan pujian orang terhadapku. Lalu cepat-cepat aku berlari pulang tanpa mempedulikan tawa bahagia para peraih juara kelas itu.
            Tanganku masih memegangi buku rapor yang kini bertuliskan angka-angka yang sangat mengecewakanku. Mataku yang berair masih saja memandangi buku itu lekat-lekat seakan takut ada bagian yang tidak kelihatan dan akhirnya tak dapat kubaca. Sekarang aku tengah berbaring di kamarku yang terasa sempit menghimpit hati dan pikiranku yang kalut. Pintu kamar sudah kukunci sejak tadi, sejak aku membantingnya kasar setelah terlebih dahulu membuat keributan karena menabrak jatuh adikku dalam ketergesaanku menuju kamar. Ibu dan adik-adik sudah mengetuk pintu berulang kali sampai akhirnya berhenti karena tidak ada respons dariku. Lalu, hal yang kutakutkan tiba. Suara motor ayah dan bunyi derit pagar yang dibuka membuatku menegakkan kepala. Ah, pasti sekarang ibu dan adik-adik sudah mengadukan keadaanku kepada ayah. Semakin tajam saja rasanya telingaku ini saat mendengar langkah-langkah ayahku mendekat. Dan benar saja, tiba-tiba beliau mengetuk pintu dan memanggil namaku. Di depan ayah, aku tak pernah berani membantah apalagi menentang perintahnya, jadi aku beringsut dari tempat tidur dan perlahan membuka pintu.
            Tak ada perubahan pada ekspresi wajah ayahku saat beliau melihat mata anaknya yang merah dan membengkak. Ayah meminta buku raporku dan aku berbalik ke tempat tidur untuk mengambilnya. Hanya alis matanya saja yang sedikit terangkat saat beliau melihat isi raporku, selebihnya roman mukanya tidak berubah. Ayah lalu mendudukkanku di kursi meja belajar. Sembari menatap anaknya, ia bertanya,
             “Mengapa Nia menangis? Apa dengan menangis, rapor Nia akan mengubah nilainya sendiri?”. Aku menggeleng lemah lalu menjawab,
            “Nia sudah sangat pede akan mendapat ranking di kelas, tapi ternyata... ternyata...,” aku mulai sesenggukan. Ayah membiarkan tangisku reda lalu melanjutkan,
            “Nia ingat, kan penyebab iblis dulu diusir dari surga? Dia diusir Allah karena tidak mau bersujud kepada Nabi Adam, karena dia mengakui bahwa dirinya jauh lebih mulia daripada Nabi Adam yang hanya berasal dari tanah. Dengan kata lain, dia telah berlaku sombong, dan Allah tidak berkenan dengan perilakunya itu sehingga diusirlah ia dari surga.” Aku tersentak mendengar kata-kata terakhir ayahku. Dan seolah mengetahui pertanyaan dalam hatiku, ayah kembali berkata,
            “Iblis diusir dari surga bukan karena ketidakpatuhannya dalam beribadah, melainkan karena dia telah bersikap sombong dan menganggap mulia dirinya sendiri. Apa Nia tahu bahwa Nia mempunyai kecenderungan untuk berbuat angkuh?” Aku kembali terkejut mendengar perkataan ayahku dan tidak tahu harus menjawab apa.
            “Ayah sudah lama memperhatikan sifat Nia ini. Ayah sudah mulai khawatir dari sedikitnya jumlah teman-teman SD yang Nia undang ke rumah dan itu pun Nia batasi, hanya yang pintar saja yang dibukakan pintu. Lalu, gelar juara enam tahun berturut-turut yang Nia sebut ke mana-mana. Seharusnya Nia dapat bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, karena bisa saja Allah mencabut semua nikmat itu dalam sekejap, termasuk kecerdasan Nia. Ayah ingin, semua ini menjadi pelajaran bagi Nia. Jujur, ayah kecewa dengan nilai-nilaimu, tapi ayah akan lebih kecewa lagi jika Nia tidak bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Anggaplah ini semua sebagai bagian dari kasih sayang Allah yang menegurmu karena Nia lalai bersyukur pada-Nya.”
            Ayah lalu mengusap air mata yang berleleran di pipiku dan meninggalkanku sendirian di kamar untuk merenung. Kata-kata nasehat ayah tadi masih terngiang di telingaku. Benarkah aku sombong? Aku mengecek memori di otakku yang tiba-tiba menjadi jernih setelah satu jam lebih menangis. Lalu terbayanglah wajah kesal teman-temanku yang sering meminta diajari tentang tenses tapi aku selalu menolaknya. Kemudian,gelembung besar kebanggaan yang senantiasa memenuhi rongga dadaku. Benarkah itu suatu kebanggaan? Atau sebuah kesombongan? Sebuah bibit keangkuhan yang nantinya akan menjauhkanku dari surga Allah? Tidaaak... Tolong aku, ya Allah!
            Aku tersentak lagi. Sekarang aku memohon pertolongan Allah, sementara untuk duduk sebentar setelah sholat, menengadahkan tangan untuk mensyukuri segala nikmat-Nya pun aku tak pernah. Bagaimana Allah akan menolongku? Kesadaran demi kesadaran mulai menghantamku. Betapa pelitnya aku dalam membagi ilmu kepada orang lain, sementara aku tahu bahwa ilmu yang bermanfaat adalah penyambung pahalaku di akhirat kelak. Betapa sombongnya aku yang selalu menganggap rendah orang lain padahal aku bahkan tak lebih baik daripada mereka. Baru kusadari, betapa durhakanya aku karena tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah kumiliki dan tak pernah berusaha mensyukurinya. Aku pun kembali larut dalam air mata. Namun, entah mengapa kini aku merasa lebih lega...
            Caturwulan kedua kucoba hadapi dengan lebih banyak persiapan. Nilai-nilaiku yang mengecewakan pada cawu yang lalu membutuhkan banyak peningkatan. Aku sudah tidak malu-malu lagi untuk bertanya kepada teman-teman yang dulu kuanggap tak selevel denganku. Aku juga mulai rela dan berusaha ikhlas untuk mengajarkan apa yang kutahu kepada siapa saja, termasuk meminjamkan buku-buku catatan dan PR-ku yang dulu kuanggap keramat dan tak kuperbolehkan dipinjam siapa pun.
            Hasil dari usahaku mulai terlihat. Walaupun sempat stagnan di peringkat yang sama pada cawu kedua, akhirnya aku kembali mendapatkan tempat di posisi tiga teratas di kelas. Namun, tak ada satu pun gelar juara pertama yang tertoreh di raporku semasa SLTP. Aku sudah cukup puas sebenarnya dengan meraih tempat kedua apalagi mengingat bahwa aku dulu pernah terpuruk di peringkat yang sungguh tak pernah kubayangkan. Akan tetapi, menjelang UAN SLTP aku kembali tersadarkan. Teman sebangkuku tiba-tiba menegur saat aku menyerahkan tugas akhir yang kuketik bermalam-malam sebelumnya kepada temanku yang lain yang belum mengerjakan apa-apa.
            “Kamu tidak akan mengajari dia sesuatu hanya dengan menyerahkan tugasmu begitu saja. Seharusnya kamu mengajarkannya, bukan hanya memberikan tugasmu tanpa penjelasan apa pun! Apa kamu tidak kasihan dengan dirimu sendiri yang sudah berhari-hari mengerjakan tugas, tapi akhirnya tugasmu itu melayang ke tangan orang yang sejak awal niatnya hanya mencontek?”
            Cukup panjang kalimat yang meninggalkan bekas di hatiku. Ternyata begitu rupanya... Aku telah salah menafsirkan makna keikhlasan selama ini. Aku merasa telah berbuat amal  yang ikhlas dengan menyerahkan tugas dan PR-ku kepada teman-teman yang lain tanpa bisa mengajarkan kepada mereka satu kata pun dalam setiap tugas-tugas itu. Ah, temanku... terima kasih atas perantaraanmu dalam penyampaian hidayah kedua kepadaku. Mungkin inilah sebabnya Allah masih belum berkenan mempercayakan posisi teratas di kelas untukku, hingga waktu kelulusan SLTP tiba.
            Alhamdulillah, syukurku kepada Allah saat aku menginjak bangku SMA. Betapa Sang Maha Pemurah telah menganugrahkan begitu banyak nikmat selama tiga tahun aku belajar di sana. Pertemuanku dengan ukhti-ukhti yang begitu perhatian, mendorongku pada sebuah hidayah terbesar yang kurasakan, yaitu komitmenku untuk mengenakan pakaian takwa. Indah benar saat kukenang masa-masa penemuan identitas diriku sebagai seorang muslimah. Namun tak bisa lekang dari ingatanku, kedatangan hidayah pertama yang diamanahkan melalui lisan ayahku. Kesadaranku tentang begitu tipisnya batas antara sebuah kebanggaan dan kepercayaan diri dengan hakikat suatu kesombongan. Keangkuhan yang membuatku menuai sebuah peringatan dari Allah mengenai pentingnya syukur dan penjagaan diri dari bahaya penyakit hati ini. Walaupun hijrah terbesarku kulakukan saat memakai jilbab, selalu tetap tertanam dalam hatiku bahwa hijrah menuju syukur kepada Allah adalah hijrah yang menorehkan bekas yang begitu mendalam pada hidupku. Karena bukankah penyakit sombong itu dapat melunturkan pahala perbuatan baikku yang lain, termasuk pahala dari busana takwaku ini? Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih berusaha tetap istiqomah pada hidayah yang telah digariskan Allah sebagai wujud rahmat-Nya kepadaku. Semoga Allah senantiasa menaungi jalanku menuju ridho-Nya. Amiin...
~~ oOo ~~
Abdullah bin Mas’ud ra. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, meskipun hanya sebesar zarrah.”

(HR. Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar