Rabu, 26 November 2014

[Edisi Cerpen] Sunny

Tak percaya. Itulah yang Mommy rasakan saat pertama kali mengetahui kehadiranmu. Beberapa kali pun Mommy mengucek-ngucek mata, tetap belum bisa mempercayai penglihatan Mommy atas stik bergaris dua itu. Bergegas Mommy membangunkan Daddy-mu. Dengan mata mengantuknya ia mengerjap-ngerjap dan seketika membelalak. Ia pun memeluk Mommy dan mengucap syukur berulang kali lalu tetesan air mata mengaliri pipi kami berdua. Begitu bahagianya kami saat kau memberikan isyarat keberadaanmu lewat stik tipis itu.

Lalu dimulailah hari-hari penuh warna dan cerita. Bulan-bulan awal yang berat, saat Mommy memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam perut, kecuali jeruk, buah yang nantinya sangat kau suka. Bulan-bulan berikutnya yang Mommy dan Daddy lalui dengan perasaan amazing, melihat begitu mempesonanya kau tumbuh di dalam rahim Mommy. Kemudian bulan-bulan terakhir di mana Mommy mulai berlatih senam dan pernapasan agar dapat mempersiapkan kelahiranmu dengan paripurna.

Mommy ingat betapa tegangnya wajah Daddy saat menemani Mommy di kamar bersalin. Sementara Mommy berusaha menikmati setiap kontraksi yang terjadi. Delapan jam sejak Mommy tiba di rumah sakit, kau pun lahir diiringi tangisan super kencang. Saat menerimamu dalam rengkuhan, Mommy terbayang masa-masa menunggu kehadiranmu, enam tahun, dan tanpa terduga dirimu hadir di ujung masa penantian itu. Tak henti Mommy mengucapkan syukur.

Daddy dan Mommy sepakat memberimu nama Sunny, karena kau adalah matahari yang menjadi penerang kehidupan kami. Mommy pun ingin mengurusmu dengan tangan Mommy sendiri, sehingga Mommy rela meninggalkan pekerjaan Mommy. Mommy ingin menyaksikan segala tingkah lucumu, langkah pertamamu, dan tawa lepasmu yang membuat Mommy bersedia menukar semua yang ada di dunia demi kebahagiaanmu. Daddy juga tak mau ketinggalan. Dialah yang senantiasa siap sedia mengganti popokmu di malam hari, menemanimu mengapung di kolam renang kecil dan menjadi yang pertama cemas saat kau sakit.

Tak terasa kau hampir berusia empat tahun sekarang, dengan poni dan rambut kuncir dua yang membuat setiap orang yang melihat tak tahan untuk mencolek pipimu gemas. Kau pun semakin pintar dan tertarik pada banyak hal. Kemudian sampailah kita pada hari itu.

Seperti biasa, siang ini Mommy akan mengantarmu ke kelas gym anak di sebuah pusat perbelanjaan. Sejak pagi kau sudah melompat-lompat riang dengan rok tutu dan legging mungilmu. Dengan celoteh ramai kau ikut masuk ke dalam mobil dan tak protes saat Mommy memasangkan sabuk pengaman padamu. Sepanjang perjalanan kita bernyanyi bersama dan tak sedikitpun ada firasat dalam hati Mommy bahwa saat itu kecelakaan menimpa kita.

Mommy terbangun di sebuah kamar dengan gorden putih bersih dan langsung teringat dirimu. Daddy menenangkan Mommy dan berkata kau baik-baik saja. Mommy berkeras ingin menemuimu tetapi saat hendak bangun, Mommy terhuyung-huyung hendak pingsan lagi, dan Daddy meminta Mommy untuk kembali beristirahat.

Kau sudah dibawa pulang ke rumah, kata Daddy, maka Mommy pun berusaha keras untuk segera sembuh dan kembali menemanimu bermain. Saat tiba di rumah, Mommy langsung menuju kamarmu. Ternyata kau sedang bermain di tempat tidur bersama boneka Hello Kitty kesayanganmu. Mommy langsung menghambur memelukmu lalu memeriksa sekujur tubuhmu, mencoba mencari adakah bekas luka atau memar akibat kecelakaan itu. Mommy bersyukur karena kau terlihat sehat dan ceria seperti biasa. Bertubi-tubi Mommy menghujanimu dengan ciuman sambil meminta maaf karena beberapa hari tak bertemu. Lalu kau mengucapkan kata-kata penghiburan dengan bahasa cadelmu dan mengajak Mommy bermain bersama.

Sejak saat itu Mommy bertekad takkan meninggalkanmu walau semenit saja. Daddy sempat meminta Mommy untuk keluar dari kamarmu dan makan di ruang tengah, tetapi tidak, lebih menyenangkan di sini bersamamu dan kita saling menyuapkan makanan berdua. Mommy juga senang membelai rambutmu sebelum tidur dan membacakanmu cerita. Tak ada yang bisa memisahkan kita berdua.

Suatu hari Daddy melihat kebersamaan kita berdua. Namun ia tak beranjak dari pintu kamarmu yang terbuka meskipun kau sudah memanggilnya. Mommy pun menegur Daddy, lalu Daddy mendekat, ia menarik tangan Mommy dan meminta Mommy beristirahat. Mommy berkeras ingin menemanimu di sini, terlebih kau sedang minta rambutmu disisir dan dikuncir dua. Mommy mengatakan pada Daddy bahwa Mommy belum dan tak akan pernah lelah menemanimu, jadi Mommy belum ingin beristirahat. Daddy menyerah dan menutup pintu kamarmu saat ia keluar.

Ketika itu Mommy terbangun tengah malam karena Mommy tak ingat apakah sudah membacakan cerita sebelum tidur padamu atau belum. Betapa terkejutnya Mommy saat menyadari Mommy berada di kamar Mommy yang biasa, bukan di kamarmu, bukan di sebelahmu. Dengan tergesa-gesa Mommy membuka pintu kamarmu, kau masih tidur dengan memeluk teman-teman bonekamu. Namun tiba-tiba Daddy memegang lengan Mommy dan tak mengizinkan Mommy masuk ke kamarmu. Mommy heran, bagaimana Daddy bisa melarang Mommy menemanimu tidur. Apakah Daddy merasa diabaikan karena kita seharian selalu bersama? Air mata Daddy mengalir di pipinya. Ia memohon agar Mommy kembali ke kamar kami dan beristirahat. Mommy menolak dan mengibaskan tangan Mommy sampai terlepas, lalu mendekatimu di tempat tidur.

“Sunny sudah tiada, Ris. Sunny sudah nggak ada..” lirih Daddy berkata. Mommy menoleh ke arahnya dan mengernyit, apa maksud perkataan Daddy, bukankah kau masih berguling di tempat tidurmu. Mommy membelai pipimu dan berkata, “Ssst, Sunny sedang tidur, Mas. Tolong dipelankan suaranya.”

Daddy lalu berlutut di hadapan Mommy. Ia memegang kedua tangan Mommy. Masih dengan air mata di wajahnya, ia berkata, kali ini dengan sedikit tegas, “ Ris, Sunny putri kita sudah meninggal. Dia sudah kembali ke sisi Tuhan. Kecelakaan itu..” Daddy tiba-tiba tercekat dan tak bisa melanjutkan kalimatnya. Rasa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh Mommy. Kecelakaan? Kau sudah tiada? Mommy kembali menoleh padamu, kau masih tidur, matamu bergerak-gerak seperti sedang bermimpi. Mommy menggeleng-geleng, apa maksud Daddy, putri semata wayangnya masih ada di sini, di kamar ini, tidur pulas seperti bayi. Bukankah setelah kecelakaan itu kau sehat-sehat saja, sayang?

Daddy mengusap pipi Mommy dan mengajak Mommy keluar, Mommy kembali menolak. “Sunny ada di sini, Mas. Dia sedang tidur, dia sehat-sehat saja. Mas jangan bilang yang aneh-aneh.” Mommy menoleh lagi ke arahmu, tetapi kau tak di sana. Mommy langsung berdiri, memandang berkeliling, apa kau tiba-tiba bangun? Apa kau tiba-tiba jatuh dari tempat tidur? Mommy memutari tempat tidurmu, melongok ke kolong, mencari-cari tubuh mungilmu, memanggil-manggil namamu. Daddy memeluk Mommy dan Mommy langsung berontak, Mommy ingin mencarimu, kau di mana? “Sunny sudah tiada, Ris..” kembali Daddy berkata sedih. Seketika tubuh Mommy limbung, timbul kilasan-kilasan peristiwa di hadapan Mommy, peristiwa kecelakaan itu. Kesadaran Mommy mendadak hilang, beserta kilasan wajahmu dan senyum ceriamu.

Tangsel, 26 November 2014, 15.11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar