Supaya konsisten ada postingan setiap hari di blog ini, maka hasil karya jaman jebot bolehlah ya dipajang, hehehe..
Kakak
Hujan turun rintik-rintik, tapi aku
masih berada di situ. Duduk di samping pusara yang baru saja ditaburi
bunga-bunga. Sahabatku, Prima, telah menunggu di dalam mobil, tapi aku masih
saja memejamkan mata, berdoa agar dia yang telah meninggalkan dunia ini dapat
memperoleh tempat terbaik di surga Alloh. Prima turun dari mobil sambil membawa
payung untuk melindungiku dari hujan yang semakin deras. Ia tidak mengatakan
apa-apa untuk memprotes begitu lamanya aku berdiam di situ. Ia sudah terlampau
paham betapa berartinya orang itu bagiku.
Aku membuka mata, menoleh memandang Prima
yang telah lama berdiri memayungiku.
“Afwan, Prim. Kelamaan, ya?” tanyaku
padanya. Prima tersenyum.
“Nggak, rapat supervisi juga masih
satu jam lagi. Gue nggak apa-apa kalau lo masih pengen lama di sini,” jawabnya,
masih dengan senyum yang sama.
“Rapat supervisi... Yah, kita harus
segera kembali ke kantor,” kataku sambil mengusap nisan makam itu.
“Rakha pulang dulu, Kak,” bisikku
pelan. Aku lalu mengikuti langkah-langkah Prima menuju mobil yang terparkir di
pinggir jalan.
Di dalam mobil yang dikemudikan Prima,
pikiranku masih tertuju kepada makam itu, pusara yang bernisankan nama Shafiyya
Ardinia, yang telah menghadap Robb-nya lima tahun yang lalu. Dia adalah kakak
perempuanku, satu-satunya kakakku di dunia ini, yang teramat berharga bagiku.
Aku kembali terkenang pada masa-masa itu, lima belas tahun yang lalu...
~oOo~
Wajah kedua orang tuaku begitu berseri
saat tahu bahwa aku diterima di salah satu SMA favorit di kota ini. Tak kulupakan
betapa bangganya kakakku ketika adiknya
ini mengikuti jejaknya di sekolah yang sama, walau telah satu tahun ia berada
di bangku kuliah. Kecerdasan yang kuwarisi dari otak doktor ayah ternyata amat
berguna. Kulewati masa SMA itu dengan berbagai prestasi cemerlang. Juara kelas
setiap tahun, bintang basket sekaligus ketua OSIS di sekolah, hingga pemenang
lomba sains tingkat nasional. Betapa disayangnya aku oleh guru dan teman-teman.
Tak ada yang tidak mengenal Rakha Agung Alfiandra, baik di dalam maupun di luar
sekolah.
Sayangnya, prestasi yang kutunjukkan
ternyata merupakan hasil dari sebuah kekeliruan besar. Nilai sempurna yang
kuperoleh setiap kali ujian adalah ‘berkah’ dari heroin yang kuhisap malam
harinya, penampilan prima saat pertandingan basket adalah efek dari bubuk haram
yang kunikmati beberapa jam sebelumnya.
Kuakui ini merupakan kesalahan fatal,
terlebih lagi keluargaku tidak tahu menahu. Mereka tidak curiga sedikit pun
saat aku keluar bersama teman-temanku setiap malam Minggu. Hanya ‘teman-teman
gaul’ku yang mengetahui bahwa si bintang sekolah ini kerap teler setelah
menghisap heroin. Kadang kutolak ajakan kakak untuk ikut kajian Islam di
kampusnya, dengan alasan bahwa aku akan mengikuti pengajian di tempat lain.
Padahal saat itu adalah saat yang kusepakati dengan bandar heroin untuk
bertransaksi.
Kakak yang pertama kali tanggap
melihat kelakuanku yang sering keluar malam bersama teman-teman. Sudah beberapa
kali dia menawarkan untuk keluar bersamanya, ikut kegiatan kampusnya, yang
kutahu akan berguna untuk menjauhkanku dari lingkungan yang buruk. Tapi
berkali-kali pula tawarannya kutolak dengan berbagai alasan.Hingga pada suatu
malam...
Adit meneleponku, mengajakku ke
rumahnya dengan alasan ingin mentraktirku mencoba ‘barang baru’. Aku jelas
tertarik dengan ajakannya, terlebih lagi ini traktiran. Kapan lagi aku bisa
‘fly’ dengan gratis? Maka aku pun berpamitan dengan kakak untuk sekali lagi
keluar rumah. Papa dan Mama sedang menjenguk kerabat di luar kota yang sedang
sakit keras. Agak cemas kulihat wajah kakak saat itu, ketika dia mengantarku
hingga ke pintu depan.
“Kamu bener harus ke rumah temenmu
itu, Kha?” ia bertanya. Aku tersenyum memandangnya.
“Iya, Kak. Dia sedang sakit, jadi
Rakha harus ikutan besuk,” jawabku, berbohong.
“Jangan pulang terlalu malam, Kha.
Kakak sendirian di rumah.” Aku tertawa mendengarnya.
“Dah mau bikin skripsi kok masih
penakut kayak anak kecil, sih?” candaku yang langsung disambut dengan cubitan
kecil di lenganku. Aku meringis pelan lalu mencium punggung tangannya dan berjalan
keluar pagar.
“Hati-hati di jalan, Kha!” kata kakak,
sedikit berteriak. Aku menoleh dan memberikan senyum paling menentramkan
sedunia. Kulihat kakakku yang cantik itu tersenyum balik dan masih memandangiku
hingga aku berbelok di sudut jalan.
Tak kukira malam itu aku akan membuat
kakak terkejut setengah mati. Berawal dari pintu yang digedor jam 1 malam,
kakak terbangun dari tidurnya. Bergegas ia membuka pintu setelah mengenakan
jilbab kaosnya. Di depan pintu, tampak aku yang sedang tidak sadar dipapah oleh
dua orang temanku. Kakak langsung pucat pasi melihat keadaanku.
“Kenapa dengan Rakha? Dia kenapa?”
tanya kakak pada teman-teman yang membawaku pulang. Mereka meletakkan tubuhku
di sofa ruang tamu dan tidak menjawab.
“Hei, ada apa dengan Rakha?” dia bertanya
lagi, agak histeris.
“Nggak tau, Kak. Tiba-tiba dia pingsan
gitu, overdosis kali,” jawab salah seorang temanku. Mata kakakku seketika
membelalak.
“Overdosis? Rakha? Nggak mungkin.
Kalian harus menjelaskan dulu,” kata kakak pada mereka. Tapi kedua temanku itu
sudah terlebih dahulu berlari keluar, meninggalkan rumah kami.
Kakak terduduk di sampingku dengan
kecemasan luar biasa. Ia menepuk-nepuk pipiku agar kesadaranku kembali. Ia
memanggil-manggil namaku dengan begitu khawatir. Baru kusadari keberadaannya di
sampingku ketika titik-titik air matanya
jatuh di wajahku.
“Kakak...,” rintihku pelan. Ia
menatapku dengan mata basah.
“Iya, Kha. Kakak di sini. Kamu
kenapa?” ia bertanya dengan sedikit terisak.
“Rakha... Rakha... Uhk, uhk!” aku
terbatuk dan menutupkan tanganku ke mulut. Tak kusadari cairan merah kental
keluar dari mulutku, membasahi tanganku.
“Rakha!” jerit kakak yang shock
melihatku batuk darah. Ia mengusap darah di dagu dan bibirku dengan jilbab
putih kaosnya. Tangisnya semakin menjadi sementara aku kembali tidak sadarkan
diri.
Aku tidak tahu berapa lama aku
pingsan, tapi saat aku terbangun, rasa sakit yang luar biasa menggodam
kepalaku. Aku melihat sekelilingku. Ternyata aku sedang terbaring di ruangan
yang berseprai dan bergorden putih, dengan bau obat yang tercium samar. Hah?
Aku ada di rumah sakit? Batinku terkejut. Aku mencoba mengangkat tubuhku tapi
rasa pusing yang teramat sangat membuatku kembali jatuh ke atas tempat tidur.
Sakit sekali, rasanya kepalaku mau pecah.
Pintu ruangan ini tiba-tiba terbuka.
Kakakku masuk, diiringi Kak Fauzan, teman kuliahnya. Ia langsung menghampiriku
yang sedang merintih memegangi kepalaku yang sakit.
“Rakha, kamu sudah sadar? Kepalamu
sakit?” dia bertanya dengan kecemasan yang sama dengan saat ia melihatku muntah
darah. Aku hanya memejamkan mataku, kesakitan. Ia menoleh memandang Kak Fauzan.
Dengan tanggap Kak Fauzan keluar dari kamar dan memanggil dokter. Tak berapa
lama, ia kembali dengan seorang dokter dan susternya.
Dokter itu memeriksa keadaanku, lalu
ia menyuntikkan cairan bening ke dalam selang infusku. Susternya mengukur
tekanan darahku dan mencatatnya. Setelah selesai, dokter berkata,
“Ini hanya efek narkoba yang semalam
dia konsumsi. Untuk sementara adik Anda akan sedikit kesakitan seperti tadi.
Tapi saya sudah memberikannya obat penghilang rasa sakit. Akan efektif
mengurangi derita sakit kepalanya.” Kemudian dokter dan susternya keluar,
meninggalkanku bersama kakak dan Kak Fauzan.
Rasa sakit di kepalaku mulai berkurang
perlahan. Aku sudah bisa membuka mata sepenuhnya. Kutatap wajah kakak yang
cemas. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, yang kuyakini sebagai akibat ia
terjaga sepanjang malam. Ia kelihatan begitu lelah dan ada sedikit bekas air
mata di sudut matanya.
“Gimana Rakha bisa ada di sini?” aku bertanya.
Kakak melangkah mendekatiku.
“Setelah kamu pingsan lagi semalam,
Kakak menghubungi Kak Fauzan supaya bisa membantu Kakak membawamu ke rumah
sakit. Alhamdulillah, kami tidak terlambat membawamu ke sini,” jawabnya sambil
mengusap rambutku. Lalu kami sama-sama terdiam, sampai akhirnya aku membuka
suara.
“Maafin Rakha, Kak...,” kataku parau.
“Kenapa Rakha? Kenapa kamu jadi kayak
gini?” kakak bertanya lirih. Aku menghela napas berat.
“Ini salah Rakha, Kak. Rakha sudah
terjerumus hingga akhirnya jadi seperti ini. Rakha benar-benar menyesal.” Kakak
memandangku dengan mata berkaca-kaca.
“Sejak kapan, Kha?” ia bertanya lagi.
“Rakha nggak tahu kapan persisnya.
Tapi Rakha sudah mulai kecanduan saat kelas 1 SMA,” aku mengaku. Kakak tampak
seperti hampir kehilangan keseimbangan. Kak Fauzan memapahnya hingga duduk di
kursi di sebelah tempat tidurku. Kakak menutup wajahnya yang kutahu bersimbah
air mata. Ia terisak, bahunya terguncang-guncang.
“Maafin Rakha, Kak. Rakha menyesal...”
lirihku seraya meraih tangannya dan mengusap air matanya. Ia mulai tenang dan
menatapku lagi.
“Papa dan Mama tahu?” tanyaku
kepadanya. Ia menggeleng lemah.
“Kak, Rakha mohon... Jangan sampai
Papa dan Mama tahu. Mama punya penyakit jantung, Kak. Rakha nggak mau mereka
kecewa melihat keadaan Rakha sekarang,” aku memelas, memohon kepadanya.
“Kakak tahu. Tapi kamu harus
memperbaiki diri, Rakha. Jauhi obat haram itu, kecuali kamu mau melihat
keluargamu hancur,” kakak berkata, tegas. Aku terhenyak mendengarnya.
“Rakha berjanji, Kak,” janjiku padanya,
kugenggam tangannya yang bergetar karena menahan isak tangis, “Rakha berjanji
nggak akan deket-deket obat itu lagi, demi kakak, demi mama dan papa.”
“Demi dirimu sendiri juga, Kha,” kakak
berkata pelan sambil balas menggenggam tanganku.
Begitulah, aku akhirnya belajar untuk
lebih menghargai diriku sendiri, lebih menghormati hidupku yang hampir
tersia-sia karena beberapa gram bubuk heroin. Kakak benar-benar tidak
memberitahu orang tua kami. Ia hanya mengingatkanku agar tidak lagi bergaul
dengan teman-teman dan lingkungan yang bisa mengajakku kembali ke jurang
kenistaan. Aku pun menuruti pintanya untuk ikut acara-acara keagamaan di
kampusnya, berkumpul dengan saudara-saudara seiman untuk mempelajari ilmu agama
dan meningkatkan ketakwaan. Agak berat memang awalnya, tapi kakak senantiasa
menyemangatiku. Kemudian segalanya menjadi lebih mudah kujalani, terlebih saat
Kak Fauzan menjadi murobbiku. Ia, yang telah kuanggap sebagai calon kakak
iparku ternyata sangat baik memahami dan membimbingku kembali ke jalan yang
lurus. Aku jadi merasa sangat tertolong untuk menjauh dari kecanduan dengan
berada di tengah-tengah komunitas yang mampu membangkitkan ghiroh ke-Islamanku.
Meski demikian, suatu saat aku kembali
jatuh di lubang yang sama. Di tengah keadaanku yang stres menjelang Ujian Akhir
Nasional, aku bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah memperkenalkan
narkoba kepadaku. Mulanya aku menolak tawaran mereka. Tapi kerinduanku pada
bubuk putih itu, dan keinginanku untuk tampil cemerlang saat ujian membuatku
menghisap bubuk itu lagi. Namun, kali ini mereka mengajakku mencoba cara baru
menikmati heroin, yaitu dengan jarum suntik. Parahnya, aku langsung mencoba
menyuntikkannya di pembuluh darah leherku, karena kuyakini itu cara tercepat
bagiku untuk ‘fly’. Efeknya langsung terasa beberapa menit setelah injeksi.
Rasa bahagia luar biasa memenuhi otakku. Aku berteriak sekeras-kerasnya karena
saat itu aku merasa sangat hebat, seolah aku bisa mengerjakan ratusan soal
ujian saat itu juga. Entah kenapa, di tengah kegilaanku itu, aku teringat
kakakku. Terbayang wajah pucatnya yang mencemaskan keadaanku. Aku tersadar
sejenak, tapi bayangan setan lebih kuat mendekapku. Aku pun kembali jatuh ke
dalam luapan rasa gembira imitasi hasil suntikan heroinku.
Aku kembali masuk rumah sakit beberapa
hari menjelang kelulusan. Dokter mengatakan bahwa pembuluh darah leherku
mengeras akibat heroin yang sering kusuntikkan. Yang kusesali, kali ini bukan
hanya kakak saja yang kecewa. Papa marah besar padaku. Beliau berteriak-teriak
padaku yang terbaring di rumah sakit, mengatakan aku mempermalukan keluarga,
merusak diri sendiri, dan banyak lagi. Tapi yang menyesakkan batinku, Mama
langsung kumat penyakit jantungnya saat tahu bahwa aku adalah seorang pecandu
heroin. Wanita yang kucintai itu pun masuk ICU karena penyakitnya, penyakit
yang dibuat anaknya sendiri.
Sungguh kasihan aku melihat kakakku.
Ia harus bolak-balik antara kamarku dan ruangan ICU tempat Mama dirawat untuk
menjaga kami berdua di tengah-tengah kesibukannya menyusun skripsi. Sering aku
melihatnya tertidur ketika sedang menungguiku di rumah sakit. Tak sepatah kata
pun terucap darinya saat merawatku. Aku paham, kekecewaannya padaku pasti lebih
parah daripada kekecewaanku pada diriku sendiri.
Malam itu, cuaca di luar sedang tidak
menentu. Angin bertiup kencang sekali hingga kaca jendela kamarku di rumah
sakit berderak. Guntur sesekali menyambar, menimbulkan kilat yang menyilaukan
mata. Tapi langit tak kunjung menurunkan hujan. Tiba-tiba pintu kamarku
menjeblak terbuka. Kakak masuk dengan wajah yang sangat pucat dan ketakutan.
Terengah-engah dia menarik kursi rodaku dan menyuruhku bangun dari tempat
tidur.
“Kha, ikut kakak. Cepat!” perintahnya
dengan suara bergetar. Aku bangkit dari tempat tidur dan perlahan duduk di
kursi rodaku.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanyaku saat
kami sudah berada di koridor rumah sakit. Kakak tidak menjawab. Ia hanya
mendorong kursi rodaku lebih cepat menuju tempat yang tidak kuketahui.
Lima belas menit kemudian, kami berada
di depan ruangan ICU. Aku langsung tersadar akan alasan aku dibawa ke sini. Ah,
pikiran jelek ini langsung kubuang. Pasti Mama baik-baik saja.
Di atas ranjang putih, berselimutkan
kain yang juga putih, Mama terbaring. Aku tak bisa menarik napas, tapi aku lega
saat kudengar suara Mama memanggil.
“Rakha...,” panggilnya lemah. Kakak
mendorong kursi rodaku mendekati tempat tidurnya.
“Maafin Rakha, Ma. Rakha menyesal,”
kataku dengan air mata yang sekuat mungkin kutahan.
“Iya... Mama maafkan. Jaga kakakmu,
Kha, juga dirimu... Belajar yang baik, Nak, Mama ingin kamu menjadi orang yang
sukses...,” beliau berkata pelan seraya menarik napasnya yang tinggal
satu-satu.
“Mama...,” lirih kakakku. Air matanya
sudah mengalir di pipi.
“Kalian harus saling menjaga,” Mama
mengalihkan pandangannya kepada kakak, “bahkan kalau Mama sudah nggak ada.”
“Mama nggak boleh bilang begitu,”
terdengar suara tegas Papa. Mama menatap suami yang dicintainya itu, lalu
tersenyum. Wajah Mama yang putih tampak semakin pucat, perlahan ia memejamkan
matanya.
“Mama!” aku dan kakak berteriak histeris.
Tapi wanita itu sudah tak ada lagi, ia telah berpulang kepada Robb-nya. Aku
menangis sambil menggenggam tangan Mama yang telah menjadi dingin. Kakak
menangis sampai bagian depan jilbabnya basah oleh air mata. Sempat kulihat Papa
yang juga menitikkan air mata, tapi roman mukanya mendadak mengeras.
“Kau!” tunjuk beliau padaku, “kau yang
membuat ibumu sendiri meninggal! Anak macam apa kau ini!” bentaknya keras.
Beliau hendak melayangkan tangannya ke wajahku tapi kakak menangkis tangan itu.
“Pa! Papa sadar nggak, mau mukul anak
sendiri? Ini Rakha, Pa! Anak Papa!” teriak kakakku yang terkejut melihat
kelakuan Papa. Papa menurunkan tangannya, lalu berkata,
“Dia bukan anakku lagi.” Kata-kata
beliau bagaikan guntur yang mendera langit di luar. Kakiku mendadak lemas.
“Papa ngomong apa? Istighfar, Pa,”
kakakku berusaha menenangkan.
“Keluar kau dari ruangan ini!” Papa
membentakku lagi.
“Pa, kalau Papa mengusir Rakha,
berarti Papa juga mengusir Fiya,” kata kakakku serak.
“Pergi saja kalau kau mau. Urus adikmu
yang tidak tahu malu itu. Pembunuh ibunya sendiri! Dia bukan anakku lagi,” Papa
mengulangi kalimatnya. Aku langsung bereaksi begitu mendengar kata-kata beliau.
“Rakha bukan pembunuh Mama!” teriakku
keras. Aku berusaha bangkit dari kursi rodaku sambil mengepalkan genggamanku.
Kakak berusaha menahanku tapi Papa sudah lebih dulu bertindak. Kepalan
tangannya yang lebih besar menghantam sisi kepalaku.
“Papa! Papa nggak boleh mukul Rakha!”
kakak menahan tangan Papa yang sudah terangkat lagi. Papa melepaskan tangannya
dan seketika menampar kakak.
Kakak terdiam sambil meraba pipinya
yang memerah. Aku langsung naik darah, tapi kakak menahan bahuku.
“Kau membela dia, berarti kau juga
bukan anakku,” Papa berkata dengan marah. Kakak tersentak.
“Pergi kalian...,” sambung Papa
akhirnya. Kakak menunduk dan mendorong kursi rodaku keluar ruangan. Aku pun
sudah tidak mempunyai daya lagi. Kakak membawaku kembali ke kamar.
Aku merasakan betul apa yang dirasakan
kakak. Apa lagi yang bisa dirasakan dua anak yang tidak lagi diakui ayahnya,
selain rasa sakit? Kakak tentu berharap kemarahan dan kekecewaan Papa atas
kematian Mama akan mereda. Tapi nyatanya tidak, kami diusir keluar dari rumah
dan bahkan tidak diperkenankan mengurus dan mensholatkan jenazah Mama. Aku
benar-benar ingat saat kami harus bersabar menunggu di balik pohon, menanti
rombongan yang mengantar jenazah Mama ke pemakaman pulang. Tak tergambarkan
sedih yang kami rasakan saat kami duduk di samping makam Mama dan berdoa
untuknya
Kak Fauzan membantu mencarikan
kontrakan untuk kami. Aku sangat kagum pada kakakku yang mampu menyelesaikan
skripsinya dalam masa-masa sulit seperti ini. Masa di mana ia harus
pontang-panting mencari tambahan uang untuk hidup kami berdua sementara
tabungannya semakin menipis. Aku sangat berbahagia ketika ia pulang dengan
senyum di wajah, senyum pertamanya sejak beberapa kejadian kemarin. Ia
memberitahukan bahwa ia diumumkan sebagai mahasiswa terbaik di jurusannya saat
yudisium. Tapi senyum itu segera pudar saat ia sadar bahwa orang tua kami tak bisa
turut berbangga hati melihatnya diwisuda sebagai sarjana akuntansi terbaik di
angkatannya. Aku hanya bisa menggenggam tangannya, menguatkan hatinya agar
tetap bersemangat menghadapi hari.
Setelah aku cukup sehat, aku mulai
mencicil belajar untuk ikut tes masuk perguruan tinggi. Namun aku sadar, tak
ada satu pun universitas yang mau menerima bekas pecandu seperti aku. Maka aku
berusaha keras untuk hidup sesehat mungkin. Aku bertekad untuk menghilangkan
bekas-bekas obat haram itu dari tubuhku. Setahun kemudian, setelah dokter
menyatakan aku sehat dan bersih dari narkoba, aku baru berani mendaftar masuk
universitas. Aku pun mencari informasi beasiswa agar nantinya aku tidak lagi
menyusahkan kakak dengan biaya kuliah. Aku tidak ingin merepotkan kakak lebih
banyak lagi terlebih saat ia menolak lamaran Kak Fauzan.
Siang itu Kak Fauzan bertandang ke
kontrakan kami. Aku paham bila ia ingin berbicara pribadi dengan kakak. Tak
sengaja aku mendengar percakapan mereka. Kak Fauzan ingin mengkhitbah kakak,
dengan pertimbangan bahwa mereka sudah lulus kini, dan Kak Fauzan sudah
dikontrak sebuah perusahaan asing. Akan tetapi, dengan halus kakak menolaknya.
Kakak beralasan bahwa ia masih punya kewajiban untuk mengurus pendidikanku,
lagipula ia tak bisa meminta Papa untuk menjadi wali nikahnya. Walaupun Kak
Fauzan mengatakan bahwa mereka bisa berusaha bersama-sama, kakak tetap tidak
bisa membuat Kak Fauzan menanggung beban ini juga.
Maka dari itu, aku berusaha keras
untuk mengurus pendidikanku sendiri. Segala macam tes kuikuti, dengan harapan
bahwa kakak tidak perlu mencemaskan pendidikanku lagi. Ketika akhirnya aku
diterima di sebuah perguruan tinggi kedinasan, aku sangat gembira. Kuberitahu
kakak bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan biaya pendidikanku, karena aku akan
kuliah gratis. Kuberitahu pula bahwa ia tidak perlu lagi menolak lamaran Kak
Fauzan, tapi dengan bijak kakak berkata,
“Menikah itu pasti, Kha. Yang belum
pasti adalah kapan dan dengan siapa.” Ketika aku membicarakan Kak Fauzan, kakak
malah menghindar. Padahal aku tahu bahwa mereka berdua tentu saling mencintai.
Ya Alloh, apakah aku menghalangi kakakku menikah?
Aku bertekad untuk memenuhi permintaan
terakhir Mama yang menginginkanku untuk belajar dengan baik. Sekali lagi,
kecerdasan warisan Papa amat berguna. Kakak juga sudah bekerja sebagai akuntan
publik sekarang. Ia pun sering memberiku tambahan uang jajan walaupun aku sudah
melarangnya. Aku sudah bisa mencari uang sendiri dengan mengajar privat
beberapa anak SMA sehingga bisa mencukupi kebutuhan pribadiku dan sedikit
kebutuhan makan kami.
Selepas kelulusanku dari perguruan
tinggi kedinasan itu, aku ditempatkan sebagai pegawai di lingkungan BPK dan
mulai meniti karirku sebagai auditor. Aku benar-benar tertarik dengan pekerjaan
ini karena aku memperhatikan kakakku yang sering memeriksa laporan keuangan
perusahaan-perusahaan dan mengauditnya untuk keperluan manajerial. Agak
beresiko memang, tapi kakak selalu menasehatiku agar idealisme dan kejujuran
yang kuperoleh dari kampus tetap berdenyut dalam nadiku di manapun aku
ditempatkan.
Alhamdulillah instansi tempatku
bekerja memberiku keleluasaan untuk mengambil kuliah S1 dan S2. Selama
pendidikan S2-ku di kelas ekstensi sebuah universitas, aku hanya diberikan
pekerjaan di dalam kota, sehingga kerja dan kuliahku dapat berjalan seiring.
Selama bekerja, aku banyak menemukan kasus yang unik dan kebanyakan beresiko,
contohnya saja penggelapan pajak oleh salah satu subbidang sebuah departemen
pemerintah. Semuanya membuatku merasa tertantang untuk terus mengorek kebusukan
yang menggerogoti keuangan negara ini.
Pada tahun terakhirku kuliah, aku
harus menyusun tesis. Aku lalu mengambil contoh kasus dari laporan keuangan
sebuah instansi besar milik pemerintah yang sejak dulu kucurigai, sekalian
menyelesaikan tugasku dan tim yang memang ditugaskan mengaudit lembaga itu.
Dalam tugasku itu, tim menunjuk seorang akuntan publik untuk menjamin
independensi, dan ternyata kakakku yang memperoleh tugas itu.
Kami bahu membahu menyusun rencana
untuk menyelidiki kebohongan besar yang ditutupi oleh laporan keuangan yang
senantiasa menunjukkan saldo balance. Tapi hal itu tidak mudah, karena dewan
pimpinan instansi itu menghalangi kami untuk meperoleh kebenaran. Begitu
sulitnya, sampai aku harus memperpanjang waktu pembuatan tesis.
Maka dari itu, aku beserta tim
langsung melonjak gembira saat kami mendapatkan bukti-bukti yang menunjukkan
bahwa pengurus instansi itu sudah menipu pemerintah selama bertahun-tahun
karena kerugian negara yang mereka timbulkan sangatlah besar. Namun sekali lagi
kami memperoleh perlawanan sengit. Instansi itu menuduh kami tidak menjalankan
prosedur auditing yang sesuai dan mereka merasa dirugikan dengan opini yang
kami keluarkan terhadap laporan keuangan mereka. Entah mengapa, masalah ini
menjadi besar karena mereka tiba-tiba menuntut tim auditor dengan tuduhan tidak
profesional dalam menjalankan tugas sehingga mereka merasa nama baik instansi
telah dicemarkan oleh laporan tim kami yang menyatakan bahwa lembaga tersebut
sudah ‘tidak sehat lagi’.
Masalah ini kemudian diperkarakan ke
pengadilan. Aku sebagai ketua tim harus bertanggung jawab atas kinerja kami,
maka kami semua didudukkan di muka hakim. Semuanya kian sulit saat kami harus
menghadapi tuduhan yang tidak pernah kami lakukan. Perlindungan dari BPK juga
tidak terlalu kuat untuk menolong kami. Ketika semuanya sudah berbalik arah
melawan kami, tiba-tiba kakak berdiri di depan hakim.
“Saya adalah akuntan publik yang
berkewajiban menjamin independensi tugas tim auditor ini. Tim dari BPK ini
telah menjalankan proses audit yang sesuai, dan sayalah yang bersalah apabila
tuduhan itu benar karena saya yang seharusnya mengawasi kinerja mereka.”
Aku memelototi kakak, tapi tak sedikit
pun ia bergeming. Proses peradilan kembali bergulir, dan fitnah yang teramat
kejam dialamatkan kepada kakak. Ia dituduh tak berhasil melaksanakan tugasnya
dan itu berakibat pada kerugian yang (katanya) diderita instansi korup itu.
Begitu sakit hatiku ketika kakak didakwa atas kesalahan yang tak pernah ia
lakukan. Ia pun divonis penjara sementara aku dan timku dibebaskan dari semua
tuduhan. Namun ia tak gentar menghadapi semua itu. Aku pun berusaha mengajukan
banding untuk membebaskan kakakku. Tapi rupanya lembaga peradilan negara ini
masih terlalu buta untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.
Aku mengunjunginya di penjara,
memarahinya karena pernyataannya yang begitu berani di hadapan hakim. Ia
tersenyum dan berkata,
“Rakha, kakak sudah tahu kita tidak
akan menang menghadapi ‘orang-orang kuat’ seperti mereka. Jika salah satu dari
kita tidak berkorban, maka seluruh tim akan masuk penjara.”
“Tapi kenapa harus kakak?” tanyaku
agak emosi.
“Kalau bukan kakak, pasti kamu yang
akan kena masalah karena kamu adalah ketua tim. Kakak cuma menjalankan amanah
Mama untuk menjagamu, lagipula tesismu harus diselesaikan,” jawabnya sambil
tersenyum simpul.
“Rakha berjanji akan mengeluarkan
kakak dari tempat ini. Kakak sabar, ya,” aku menguatkan hatinya, memberinya
sedikit semangat. Ia mengangguk dan memberiku pandangan yang menentramkan.
Aku kemudian mengulang penelitianku,
mencari celah kelemahan instansi itu. Beruntung rekan-rekan setimku banyak
membantu, seniorku di BPK juga turut serta. Bersama-sama kami membongkar lagi
kasus itu, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Pimpinan instansi itu
tidak menyangka kami akan melakukan serangan balik, terlebih usaha kami ini
mendapat persetujuan langsung dari kepala departemen tempat instansi itu
bernaung. Tak lama setelah kasus itu dibawa lagi ke pengadilan, kami akhirnya
memperoleh kemenangan. Aku sangat bahagia membayangkan kakakku akan segera
merasakan kehangatan rumah kami lagi.
Saat mengunjunginya di penjara, aku
menggenggam tangan kakakku yang sebentar lagi akan bebas dan namanya akan
dibersihkan. Kulihat senyum lebar di raut wajahnya yang sedikit kehilangan
cahaya akibat hidup di dalam sel.
“Kakak bangga kamu bisa menyelesaikan
masalahmu sendiri,” ia berujar. Kutatap matanya yang terlihat begitu lelah.
“Kakak sakit?” tanyaku cemas. Kakak
menggeleng.
“Kakak cuma masuk angin, sebentar lagi
juga sembuh,” katanya menenangkanku. Aku lalu menyemangatinya untuk sabar
menanti hari kebebasan.
Hari yang kami tunggu itu pun tiba.
Setelah menandatangani surat pembebasannya, kakak segera menghampiriku yang
datang menjemputnya. Ia masih tampak begitu cantik walaupun wajahnya cekung
karena beberapa bulan berada di penjara. Aku menyiapkan kejutan begitu kami
tiba di rumah. Balon-balon beraneka warna menyambut kedatangan kakakku. Aku
masih sangat ingat bahwa ia begitu menyukai balon sejak masa kanak-kanaknya.
Kakakku benar-benar tertawa saat itu, ia sangat berbahagia bisa berada lagi di
rumah dan berkumpul lagi dengan adiknya. Namun aku tidak menyangka, itu adalah
tawa terakhirnya.
Hari-hari berikutnya, aku
memperhatikan kakak yang tampak kurang sehat. Saat kutanya ia menjawab hanya
masuk angin biasa. Betapa terkejutnya aku, saat pulang dari kantor, aku
mendapati kakak terbaring pingsan di lantai.
Secepat mungkin aku membawanya ke
rumah sakit. Dokter menjelaskan bahwa kakak terserang ISPA, sehingga kondisi
tubuhnya lemah sekali. Malam itu aku menemaninya di rumah sakit, untunglah ia
cepat siuman dari pingsannya.
“Kakak senang kamu bisa melaksanakan
pesan Mama untuk menjaga kakak,” ia berkata lemah.
“Itu memang kewajiban Rakha. Kita
memang harus saling menjaga dan melindungi, kan?” Pertanyaanku itu dijawab
dengan anggukan setuju dari kakak. Aku menyuruhnya beristirahat agar tubuhnya
bisa kembali segar. Ia pun menutup matanya.
Menjelang subuh, aku terbangun dari
sofa di kamar tempat kakak dirawat. Aku ingin membangunkan kakak untuk sholat
bersama. Tapi saat kuperhatikan wajah tidurnya yang begitu tenang, aku menjadi
curiga. Kupegang tangannya yang kini sedingin es, wajahnya begitu putih, persis
wajah Mama saat...
Aku langsung menghambur keluar,
mencari dokter yang sedang berjaga. Dokter segera memeriksa denyut nadi kakak,
mengecek napasnya, tapi kemudian dia berbalik menghadapku dengan ekspresi
prihatin.
“Maaf, tapi kakak Anda sudah
meninggal,” ia berkata pelan. Aku tersentak kaget.
“Nggak mungkin, Dok. Semalam dia masih
baik-baik saja. Kakak nggak mungkin meninggal!” aku berkata histeris. Dokter
lalu menepuk pundakku.
“Anda harus bersabar menghadapinya,”
kata dokter sambil berlalu dari ruangan itu, meninggalkanku yang kini menangis
di samping tubuh kakak yang mulai membeku.
~oOo~
“Elo udah nyiapin bahan-bahan
supervisi kan, Kha?” tanya Prima, membuatku tersadar dari kenangan masa lalu.
“Eh, iya,” jawabku agak tergagap.
Pikiranku masih tertuju pada kakak. Rupanya Prima memperhatikan ekspresi
wajahku.
“Lo begitu menyayanginya, ya? Kakak lo
emang bener-bener berarti buat lo, kan?” ia bertanya lagi. Aku sebetulnya tidak
perlu menjawab pertanyaan retoris itu, karena aku teramat sangat menyayangi
kakakku itu.
“Dia bukan sekedar kakak. Dia adalah
pahlawanku. Setelah semua pengorbanan yang ia lakukan demi diriku, aku
benar-benar menyadari bahwa ia begitu berharga, begitu sempurna ia menjalankan
perannya sebagai kakak yang senantiasa menjagaku.”
“Sayang dia nggak sempet liat anak lo.
Kalau dia liat ponakannya itu, mungkin dia bisa bandingin dengan kenakalan lo
waktu masih kecil,” senyum Prima padaku. Aku melotot padanya.
“Jadi maksud lo, anak gue nakal,
gitu?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.
“Hei, hei, sejak kapan lo pake bahasa
‘lo-gue’?” tanya Prima sambil terkekeh. Aku sendiri tertawa mendengarnya.
Mobil pun melaju membelah jalan raya
yang akan mengantarkan kami menuju kantor. Melaju bersama kenanganku tentang
kakak yang selamanya tak akan hilang dari ingatanku. Kakak, aku merindukanmu...
Palembang, 19 Oktober
2007, 00:44