Jumat, 28 November 2014

[Dapur Uyung] Godokan Jahe dan Rempah

Terpikir mau bikin godokan jahe setelah ngeliat ayang capek banget sepulang Dinamika. Mana seharian kudu teriak-teriak ke maba-miba. Supaya tenggorokan hangat dan badan segar, dibuatlah resep ini.


Bahan-bahan:
1 rimpang jahe ukuran sedang
3 batang serai
2 helai daun pandan
2 batang kayu manis
2 buah cengkeh
200 gram gula merah
750 ml air
gula pasir secukupnya (optional)

Cara membuat:
1. Bakar jahe hingga harum, kupas kulitnya, lalu geprek. Cuci bersih serai lalu geprek.
2. Masak gula merah dan air hingga mendidih. Saring lalu didihkan lagi. Tambahkan gula pasir bila dirasa kurang manis. Masukkan jahe, serai, daun pandan, kayu manis, dan cengkeh. Tunggu hingga mendidih kembali.
3. Saring lalu sajikan hangat-hangat.

Godokan ini pas banget untuk menghangatkan badan. Mata langsung melek, kata ayang. Tenggorokan juga terasa hangat. Selamat mencoba.

[Dapur Uyung] Resep Bubur Candil

Yak, ini resep yang sudah lamaaa pengen dipraktekin, karena Ayang suka banget beli bubur candil buat buka puasa bulan Ramadhan. Yuk dicek resepnya:


Bahan-bahan:
200 gram tepung tapioka
3 buah ubi jalar ukuran sedang
150 gram gula merah, sisir
65 ml santan instan (di resep ini pake santan Sun Kara ukuran kecil)
3 helai daun pandan
2 sdm tepung tapioka, larutkan dengan sedikit air
1/2 sdt garam
200 ml air untuk saus santan
500 ml air untuk memasak gula merah

Cara membuat:
1. Buat saus santan, dengan cara mencampurkan santan instan dengan air. Masak dengan api kecil, masukkan sehelai daun pandan dan garam, tunggu hingga mendidih, sisihkan.
2. Potong-potong dan kukus ubi jalar hingga matang. Haluskan sampai membentuk adonan yang mulus. Boleh pake masher atau gelas seperti yang dipraktekkan untuk resep ini. :)
3. Campurkan ubi halus dan tepung tapioka. Uleni hingga kalis dan bentuk bulat-bulat kecil.
4. Masak gula merah dan air sampai mendidih, saring dan masak kembali. Jangan lupa beri 2 helai daun pandan supaya wangi, setelah mendidih, buang daun pandannya. Masukkan adonan ubi, tunggu hingga semua adonan mengapung.
5. Masukkan larutan tepung tapioka. Aduk hingga mengental.
6. Sajikan bubur candil dengan saus santannya.

Bola-bola ubinya langsung lumer di lidah. Yummy banget. Dimasak sekuali penuh, ini ayang semua yang ngabisin, karena aq gak terlalu suka makanan manis. Selamat mencoba.

[Dapur Uyung] Resep Donat Kentang

Ayang n aq sukaaa banget sama cemilan manis mengenyangkan ini, donat. Tapi setelah aq sakit tenggorokan pasca makan donat pinggir jalan (curiga gulanya dicampur sari manis), akhirnya diputuskan untuk bikin donat sendiri di rumah. Ini resepnya:



Bahan-bahan:
500 gram tepung terigu protein tinggi (Cakra Kembar)
2 sachet susu bubuk (di resep ini pake susu Dancow)
1 sachet ragi instan (merk Fermipan)
100 gram gula pasir
1/2 sdt garam
75 gram margarin (di resep ini pake Blueband Cake and Cookies)
3 buah kentang ukuran sedang
4 butir kuning telur
100 ml air dingin
milk cooking chocolate secukupnya (merk Collata), tim sampai coklatnya lumer
minyak untuk menggoreng

Cara membuat:
1. Kukus kentang hingga matang, haluskan (berhubung gak punya masher, jadilah pake gelas buat nimpuk-nimpuk kentang sampai halus). Teksturnya harus benar-benar halus dan tidak berbutir-butir agar donatnya mulus. Lalu dinginkan sampai tidak panas di tangan.
2. Campur terigu, ragi instan, susu bubuk, dan gula pasir, aduk rata. Masukkan kentang halus, telur, dan air dingin. Uleni sampai adonan agak kalis.
3. Masukkan margarin dan garam. Uleni terus sampai adonan kalis dan elastis. (ini proses yang memakan tenaga dan berbuah omelan, saking beratnya itu adonan, berotot ini tangan). Istirahatkan adonan 15 menit.
4. Bagi adonan dalam bentuk bulat. Taruh di piring/loyang/nampan yang sudah ditabur tepung. Beri jarak antar adonan. Diamkan 20 menit hingga mengembang.
4. Lubangi tengahnya dan bentuk menjadi donat. Oya, melubangi donatnya bisa manual, adonan dibentuk bulat dan dilubangi dengan jari. Supaya bentuknya tetap bulat, saat digoreng, gunakan sumpit untuk memutar-mutar bagian tengah donat sampai bentuknya bulat sempurna. Goreng hingga kuning kecoklatan. Angkat dan tiriskan. 
5. Celupkan bagian atas donat ke dalam coklat yang sudah ditim. Donat siap disajikan.

Di foto ada donat bulat isi coklat. Ini modifikasi adonan aja, dari yang donatnya dicelup coklat menjadi donat yang tengahnya dikasih coklat. Caranya mudah. Potong coklat kecil-kecil dan masukkan ke dalam adonan. Bentuk adonan menjadi bulat dan goreng. Kedua jenis donat ini yummy dan lembuuuuutt banget. Karena bikinnya kebanyakan, jadi ada sisa. Keesokan harinya ternyata donat tetap lembut dan nggak keras. Gak nyangka bisa juga bikin donat selembut ini, hehehe. Selamat mencoba.


Rabu, 26 November 2014

[Edisi Cerpen] Sunny

Tak percaya. Itulah yang Mommy rasakan saat pertama kali mengetahui kehadiranmu. Beberapa kali pun Mommy mengucek-ngucek mata, tetap belum bisa mempercayai penglihatan Mommy atas stik bergaris dua itu. Bergegas Mommy membangunkan Daddy-mu. Dengan mata mengantuknya ia mengerjap-ngerjap dan seketika membelalak. Ia pun memeluk Mommy dan mengucap syukur berulang kali lalu tetesan air mata mengaliri pipi kami berdua. Begitu bahagianya kami saat kau memberikan isyarat keberadaanmu lewat stik tipis itu.

Lalu dimulailah hari-hari penuh warna dan cerita. Bulan-bulan awal yang berat, saat Mommy memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam perut, kecuali jeruk, buah yang nantinya sangat kau suka. Bulan-bulan berikutnya yang Mommy dan Daddy lalui dengan perasaan amazing, melihat begitu mempesonanya kau tumbuh di dalam rahim Mommy. Kemudian bulan-bulan terakhir di mana Mommy mulai berlatih senam dan pernapasan agar dapat mempersiapkan kelahiranmu dengan paripurna.

Mommy ingat betapa tegangnya wajah Daddy saat menemani Mommy di kamar bersalin. Sementara Mommy berusaha menikmati setiap kontraksi yang terjadi. Delapan jam sejak Mommy tiba di rumah sakit, kau pun lahir diiringi tangisan super kencang. Saat menerimamu dalam rengkuhan, Mommy terbayang masa-masa menunggu kehadiranmu, enam tahun, dan tanpa terduga dirimu hadir di ujung masa penantian itu. Tak henti Mommy mengucapkan syukur.

Daddy dan Mommy sepakat memberimu nama Sunny, karena kau adalah matahari yang menjadi penerang kehidupan kami. Mommy pun ingin mengurusmu dengan tangan Mommy sendiri, sehingga Mommy rela meninggalkan pekerjaan Mommy. Mommy ingin menyaksikan segala tingkah lucumu, langkah pertamamu, dan tawa lepasmu yang membuat Mommy bersedia menukar semua yang ada di dunia demi kebahagiaanmu. Daddy juga tak mau ketinggalan. Dialah yang senantiasa siap sedia mengganti popokmu di malam hari, menemanimu mengapung di kolam renang kecil dan menjadi yang pertama cemas saat kau sakit.

Tak terasa kau hampir berusia empat tahun sekarang, dengan poni dan rambut kuncir dua yang membuat setiap orang yang melihat tak tahan untuk mencolek pipimu gemas. Kau pun semakin pintar dan tertarik pada banyak hal. Kemudian sampailah kita pada hari itu.

Seperti biasa, siang ini Mommy akan mengantarmu ke kelas gym anak di sebuah pusat perbelanjaan. Sejak pagi kau sudah melompat-lompat riang dengan rok tutu dan legging mungilmu. Dengan celoteh ramai kau ikut masuk ke dalam mobil dan tak protes saat Mommy memasangkan sabuk pengaman padamu. Sepanjang perjalanan kita bernyanyi bersama dan tak sedikitpun ada firasat dalam hati Mommy bahwa saat itu kecelakaan menimpa kita.

Mommy terbangun di sebuah kamar dengan gorden putih bersih dan langsung teringat dirimu. Daddy menenangkan Mommy dan berkata kau baik-baik saja. Mommy berkeras ingin menemuimu tetapi saat hendak bangun, Mommy terhuyung-huyung hendak pingsan lagi, dan Daddy meminta Mommy untuk kembali beristirahat.

Kau sudah dibawa pulang ke rumah, kata Daddy, maka Mommy pun berusaha keras untuk segera sembuh dan kembali menemanimu bermain. Saat tiba di rumah, Mommy langsung menuju kamarmu. Ternyata kau sedang bermain di tempat tidur bersama boneka Hello Kitty kesayanganmu. Mommy langsung menghambur memelukmu lalu memeriksa sekujur tubuhmu, mencoba mencari adakah bekas luka atau memar akibat kecelakaan itu. Mommy bersyukur karena kau terlihat sehat dan ceria seperti biasa. Bertubi-tubi Mommy menghujanimu dengan ciuman sambil meminta maaf karena beberapa hari tak bertemu. Lalu kau mengucapkan kata-kata penghiburan dengan bahasa cadelmu dan mengajak Mommy bermain bersama.

Sejak saat itu Mommy bertekad takkan meninggalkanmu walau semenit saja. Daddy sempat meminta Mommy untuk keluar dari kamarmu dan makan di ruang tengah, tetapi tidak, lebih menyenangkan di sini bersamamu dan kita saling menyuapkan makanan berdua. Mommy juga senang membelai rambutmu sebelum tidur dan membacakanmu cerita. Tak ada yang bisa memisahkan kita berdua.

Suatu hari Daddy melihat kebersamaan kita berdua. Namun ia tak beranjak dari pintu kamarmu yang terbuka meskipun kau sudah memanggilnya. Mommy pun menegur Daddy, lalu Daddy mendekat, ia menarik tangan Mommy dan meminta Mommy beristirahat. Mommy berkeras ingin menemanimu di sini, terlebih kau sedang minta rambutmu disisir dan dikuncir dua. Mommy mengatakan pada Daddy bahwa Mommy belum dan tak akan pernah lelah menemanimu, jadi Mommy belum ingin beristirahat. Daddy menyerah dan menutup pintu kamarmu saat ia keluar.

Ketika itu Mommy terbangun tengah malam karena Mommy tak ingat apakah sudah membacakan cerita sebelum tidur padamu atau belum. Betapa terkejutnya Mommy saat menyadari Mommy berada di kamar Mommy yang biasa, bukan di kamarmu, bukan di sebelahmu. Dengan tergesa-gesa Mommy membuka pintu kamarmu, kau masih tidur dengan memeluk teman-teman bonekamu. Namun tiba-tiba Daddy memegang lengan Mommy dan tak mengizinkan Mommy masuk ke kamarmu. Mommy heran, bagaimana Daddy bisa melarang Mommy menemanimu tidur. Apakah Daddy merasa diabaikan karena kita seharian selalu bersama? Air mata Daddy mengalir di pipinya. Ia memohon agar Mommy kembali ke kamar kami dan beristirahat. Mommy menolak dan mengibaskan tangan Mommy sampai terlepas, lalu mendekatimu di tempat tidur.

“Sunny sudah tiada, Ris. Sunny sudah nggak ada..” lirih Daddy berkata. Mommy menoleh ke arahnya dan mengernyit, apa maksud perkataan Daddy, bukankah kau masih berguling di tempat tidurmu. Mommy membelai pipimu dan berkata, “Ssst, Sunny sedang tidur, Mas. Tolong dipelankan suaranya.”

Daddy lalu berlutut di hadapan Mommy. Ia memegang kedua tangan Mommy. Masih dengan air mata di wajahnya, ia berkata, kali ini dengan sedikit tegas, “ Ris, Sunny putri kita sudah meninggal. Dia sudah kembali ke sisi Tuhan. Kecelakaan itu..” Daddy tiba-tiba tercekat dan tak bisa melanjutkan kalimatnya. Rasa dingin langsung menjalar di sekujur tubuh Mommy. Kecelakaan? Kau sudah tiada? Mommy kembali menoleh padamu, kau masih tidur, matamu bergerak-gerak seperti sedang bermimpi. Mommy menggeleng-geleng, apa maksud Daddy, putri semata wayangnya masih ada di sini, di kamar ini, tidur pulas seperti bayi. Bukankah setelah kecelakaan itu kau sehat-sehat saja, sayang?

Daddy mengusap pipi Mommy dan mengajak Mommy keluar, Mommy kembali menolak. “Sunny ada di sini, Mas. Dia sedang tidur, dia sehat-sehat saja. Mas jangan bilang yang aneh-aneh.” Mommy menoleh lagi ke arahmu, tetapi kau tak di sana. Mommy langsung berdiri, memandang berkeliling, apa kau tiba-tiba bangun? Apa kau tiba-tiba jatuh dari tempat tidur? Mommy memutari tempat tidurmu, melongok ke kolong, mencari-cari tubuh mungilmu, memanggil-manggil namamu. Daddy memeluk Mommy dan Mommy langsung berontak, Mommy ingin mencarimu, kau di mana? “Sunny sudah tiada, Ris..” kembali Daddy berkata sedih. Seketika tubuh Mommy limbung, timbul kilasan-kilasan peristiwa di hadapan Mommy, peristiwa kecelakaan itu. Kesadaran Mommy mendadak hilang, beserta kilasan wajahmu dan senyum ceriamu.

Tangsel, 26 November 2014, 15.11

Rabu, 22 Oktober 2014

[Edisi Cerpen] Hidayah Pertamaku

Sebuah cerpen yang sudah lamaaaaa sekali q tulis. Berdasarkan kisah nyata dan pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan cerpen Tahun Baru Hijriyah. Semoga bisa memberikan hikmah dan menjadi perantara q bersyukur atas hidayah yang telah dikaruniakan Alloh kepada q.

HIDAYAH PERTAMAKU

            Deru motor ayahku terdengar berbaur dalam kungkungan angkot dan kendaraan pribadi yang melaju di jalan sempit ini. Dengan lincah, ayah meliuk-liukkan motornya di celah antarkendaraan. Selang beberapa menit, kami berhenti. Aku menapak turun dari motor. Setelah mencium tangan ayah dan mendengarkan kalimat “jangan nakal di sekolah”-nya sebentar, aku mulai melangkah menuju halaman yang dilatarbelakangi oleh sebuah gerbang. Langkahku semakin ringan dan gerbang itu seolah membuka untukku. Yah, inilah hari pertamaku menjadi siswi SLTP. Sebuah SLTP yang menjadi incaran sejak aku bersekolah di SD dulu...
            Aku melewati gerbang sembari tersenyum. Ku edarkan pandangan kepada ratusan siswa yang “bertebaran” di sekitar lapangan. Salam kenal, teman-teman baru, sapaku dalam hati. Aku lalu menuju papan pengumuman besar yang dikerubungi murid-murid. Papan pengumuman itu berdiri di depan ruangan yang pastilah merupakan ruang guru, dengan kursi-kursi dan meja-meja kayu yang saling berdempetan. Lembar-lembar kertas pembagian kelas sudah tertempel di papan hitam itu dan aku harus mendongak untuk membacanya. Yah, dengan tubuhku yang mungil ini dan kerumunan siswa di sekelilingku, aku memang perlu menengadahkan kepala, sambil berjinjit kalau perlu.
            Bingung memelototi nama-nama yang berbaris seperti semut itu, aku pun berpaling pada kertas lain yang tertempel di sebelahnya. Daftar peringkat NEM tertinggi yang diterima si SLTP bla...bla...bla..., bunyi judul di atasnya. Urutan pertama 45, 25 dan 0, 20 poin di bawahnya, tertera namaku di peringkat kedua. Ah, seandainya saja nilai itu sama dengan NEM bayanganku saat cawu dua kelas enam SD dulu, tentu akulah yang akan menduduki posisi pertama itu, dengan kelebihan beberapa desimal poin. Tiga orang anak di sebelahku sedang menunjuk-nunjuk kertas itu dengan decak kagum karena nilai ebtanas yang tertera di sana. Untuk sesaat, aku bangga karena orang yang namanya mereka tunjuk itu adalah diriku. Dan itulah kebanggaan pertamaku di sekolah ini.
            Kebanggaan keduaku terjadi pada saat perkenalan diri di kelas. Ketika aku menyebutkan namaku, kulihat  beberapa anak merapatkan kepala dan berbisik-bisik. Ah, tentu mereka sekarang tahu bahwa akulah si peringkat kedua itu. Dengan sangat percaya diri, aku kembali ke mejaku yang harus kubagi berdua dengan seorang anak perempuan yang baru beberapa hari kukenal. Selang beberapa saat, seorang cewek ABG bertubuh jangkung maju untuk berkenalan dengan seluruh penghuni kelas. Dari namanya, aku tahu dialah sang nomor satu itu. Kudengar bisik-bisik yang lebih keras dari sekitarku. Ia pun kembali ke bangkunya di belakang dengan diiringi tatapan mata anak-anak di kelas, termasuk aku. Satu persatu, aku melihat anak-anak lain peraih sepuluh besar NEM tertinggi maju berkenalan. Nyatalah bagiku, kelas 1.4 ini adalah kelas unggulan, kelas pilihan. Ini bisa terlihat dari banyaknya calon saingan yang nantinya pasti akan menghalangi langkahku untuk merebut posisi teratas di kelas bahkan di seluruh kelas satu.
            Ah, menjadi nomor satu adalah hal yang sudah tertanam dalam pikiranku sejak menginjak bangku sekolah. Kedudukanku sebagai anak pertama dalam keluarga, yang lebih didahulukan kepentingannya, menjadi akar obsesiku. Yah, itu adalah obsesiku, umm... obsesi orang tuaku juga sebetulnya, karena sejak balita aku sudah dididik dengan keras sehingga aku bahkan sudah lancar membaca koran sebelum duduk di kelas satu SD. Kecenderunganku untuk menjadi favorit guru membuatku semakin nyaman berada di sekolah, bahkan dulu aku pernah diminta menjadi asisten guruku untuk mengajar teman-teman yang lain mengeja kata-kata di papan tulis, padahal saat itu umurku baru tujuh tahun. Predikat juara satu setiap caturwulan selama enam tahun pendidikanku di sekolah dasar membuatku merasa lebih superior daripada yang lain.
            Oh ya, belum kukatakan bahwa aku benci dinomorduakan. Begitu bencinya sampai aku hampir-hampir tak akan bisa menerima sebuah kekalahan. Dan kini, aku tidak terima dijadikan peringkat kedua walaupun itu hanya tertera di sebuah kertas pengumuman. Sudah saaatnya bagiku untuk menunjukkan bahwa aku memang punya kemampuan lebih dibandingkan dengan orang lain.
            Minggu-minggu awal sekolah, aku berusaha membuktikan tekadku sekuat tenaga. Hasilnya, secara tidak resmi aku sudah menjadi murid kesayangan “Miss Cantik”, guru bahasa Inggris kami, disebabkan oleh kecakapanku ber-“structure and grammar’ yang dinilainya lebih di atas rata-rata. Yah, itu merupakan kemampuan yang sudah dipaksakan orang tuaku untuk kumiliki sejak kelas lima SD. Namun, mungkin itulah hal terbaik yang kudapati dari pelajaran di sini. Pelajaran-pelajaran dasar yang mulanya dengan mudah dapat kupahami karena masih berbasis pada pelajaran SD, mulai ditingkatkan levelnya. Aku pun gelagapan dengan cepatnya akselerasi bab-bab pelajaran yang dicekokkan guru-guru kepada kami. Sama halnya dengan pelajaran yang baru aku temui sekarang. Fisika, pecahan Ilmu Pengetahuan Alam, dengan konsep Gerak Lurus Beraturan dan Gerak Lurus Berubah Beraturannya yang sampai sekarang pun belum dapat kumengerti. Ekonomi, anak pelajaran IPS, dengan prinsip-prinsip menurut Keynes, Adam Smith, dan ekonom lainnya yang tak kukenal sama sekali. Sebenarnya, aku bisa saja bertanya kepada temanku yang kursus di bimbel tentang hal-hal semacam itu. Tapi kesuperioranku tegas-tegas melarang aku untuk bertanya karena adanya pasokan kebanggaan sebagai sang nomor satu yang masih terpatri dalam dada ini. Malu rasanya, harus bertanya kepada orang yang kemampuannya masih di bawahku, begitu kata batinku. Namun rasa gengsi itu tak bertahan lama, karena aku sudah semakin bingung dengan soal-soal persamaan linier matematika, dan mulai terlontarlah pertanyaan-pertanyaan kepada teman sekelasku, termasuk kepada kesembilan saingan terberatku.
            Siapa sangka bahwa pertanyaan-pertanyaan itu malah memancing rasa ketergantunganku pada orang lain. Dan mulailah aku mencontek. Hal yang selama ini kuanggap tabu, akhirnya kuhalalkan sendiri. Namun itu tak ada pengaruhnya bagi nilai-nilaiku. Aku yang biasanya alergi dengan angka enam ke bawah, akhirnya harus merelakan rapor bulananku berawan mendung. Bahkan dua ulangan fisika pertamaku mendapat nilai lima! Kulirik rapor teman-temanku, sebagian bernasib sama sepertiku dan aku masih bisa berbangga hati karena bukan hanya aku yang kecewa dengan nilai-nilai ini. Masih shock dengan pelajaran baru, hibur hatiku. Meskipun demikian, aku tetap merasa memiliki lebih banyak kepandaian dibanding mereka.
            Akhirnya tibalah saat pembagian rapor caturwulan pertama. Aku dan teman-teman yang sedang berkumpul di lapangan, sudah sejak tadi sibuk menebak-nebak siapa yang akan menjadi jawara kelas kami.
            “Ah, pasti kamu deh, Nia,” seorang teman menunjukku. Blup, gelembung besar kebanggaan menyembul di permukaan hatiku.
            “Iya, kamu kan juara satu terus waktu SD. Nggak bisa dikalahin deh, pokoknya,” dia semakin memujiku. Blup-blup-blup, bertambah banyaklah gelembung-gelembung gede itu. Mata teman-temanku yang lain berbinar dan mulut mereka membulat ber-ooh. Aku tersenyum saja menanggapinya padahal hati ini sudah ditenggelamkan buih-buih kebanggaan yang terus meluber.
            Setelah lama ditunggu, wali kelasku akhirnya datang juga dengan membawa segepok rapor dan tiga piagam penghargaan. Beliau mengawali seremoni pembagian rapor ini dengan “sepatah-dua patah kata” yang seperti menjiplak ceramah kepala SD-ku setiap kali upacara bendera. Dan bagian paling menyenangkannya adalah saat beliau memberitahukan berapa lama liburan akan berlangsung.
            Suasana kelas berubah menjadi tegang saat wali kelasku itu menyudahi wejangannya. Beliau mengeluarkan tiga rapor biru dan menyelipkan piagam di antara halaman-halaman ketiga rapor itu. Hatiku semakin tidak menentu saat beliau memanggil peraih ranking ketiga. Tepat seperti inilah momen yang kubenci dari setiap akhir cawu. Perasaan yang campur aduk antara cemas dan tegang, serta perut yang bergolak karena stres mulai menghantam diriku. Tapi, selama ini semua penderitaan itu diakhiri dengan senyum bahagiaku dengan piagam juara satu yang terselip di raporku. Kemudian... juara kedua maju ke depan kelas, dia adalah teman SD-ku sekaligus rival yang tak pernah kuanggap berbahaya sejak awal. Dengan harapan yang semakin membuncah, aku meremas-remas tanganku. Saingan semasa SD-ku saja bisa meraih ranking dua, apalagi aku, yang notabene sebagai juara bertahannya. Lalu nama penyabet jawara kelas ini sekaligus juara umum kelas satu disebutkan, tapi itu bukan namaku, melainkan nama cewek jangkung peraih NEM tertinggi itu. Kurasakan jantungku seperti mau melorot ke rongga perut dan keringat dingin mulai mengucuri leherku. Ah tidak, masih ada peringkat lima besar, aku kuat-kuatkan saja membesarkan hati, Dan seperti tahu apa yang kupikirkan, wali kelasku langsung menyebutkan nama-nama siswa yang mendapat peringkat empat, lima, enam... hingga sepuluh besar. Badanku semakin lemas mendengarnya. Tak sanggup kutatap mata teman-temanku yang tak kuperbolehkan melihat apalagi menyentuh raporku. Apa pandangan mereka sekarang, saat tahu bahwa aku, yang terbiasa memeperoleh gelar juara, malah mendapat peringkat yang tidak sepadan dengan pujian orang terhadapku. Lalu cepat-cepat aku berlari pulang tanpa mempedulikan tawa bahagia para peraih juara kelas itu.
            Tanganku masih memegangi buku rapor yang kini bertuliskan angka-angka yang sangat mengecewakanku. Mataku yang berair masih saja memandangi buku itu lekat-lekat seakan takut ada bagian yang tidak kelihatan dan akhirnya tak dapat kubaca. Sekarang aku tengah berbaring di kamarku yang terasa sempit menghimpit hati dan pikiranku yang kalut. Pintu kamar sudah kukunci sejak tadi, sejak aku membantingnya kasar setelah terlebih dahulu membuat keributan karena menabrak jatuh adikku dalam ketergesaanku menuju kamar. Ibu dan adik-adik sudah mengetuk pintu berulang kali sampai akhirnya berhenti karena tidak ada respons dariku. Lalu, hal yang kutakutkan tiba. Suara motor ayah dan bunyi derit pagar yang dibuka membuatku menegakkan kepala. Ah, pasti sekarang ibu dan adik-adik sudah mengadukan keadaanku kepada ayah. Semakin tajam saja rasanya telingaku ini saat mendengar langkah-langkah ayahku mendekat. Dan benar saja, tiba-tiba beliau mengetuk pintu dan memanggil namaku. Di depan ayah, aku tak pernah berani membantah apalagi menentang perintahnya, jadi aku beringsut dari tempat tidur dan perlahan membuka pintu.
            Tak ada perubahan pada ekspresi wajah ayahku saat beliau melihat mata anaknya yang merah dan membengkak. Ayah meminta buku raporku dan aku berbalik ke tempat tidur untuk mengambilnya. Hanya alis matanya saja yang sedikit terangkat saat beliau melihat isi raporku, selebihnya roman mukanya tidak berubah. Ayah lalu mendudukkanku di kursi meja belajar. Sembari menatap anaknya, ia bertanya,
             “Mengapa Nia menangis? Apa dengan menangis, rapor Nia akan mengubah nilainya sendiri?”. Aku menggeleng lemah lalu menjawab,
            “Nia sudah sangat pede akan mendapat ranking di kelas, tapi ternyata... ternyata...,” aku mulai sesenggukan. Ayah membiarkan tangisku reda lalu melanjutkan,
            “Nia ingat, kan penyebab iblis dulu diusir dari surga? Dia diusir Allah karena tidak mau bersujud kepada Nabi Adam, karena dia mengakui bahwa dirinya jauh lebih mulia daripada Nabi Adam yang hanya berasal dari tanah. Dengan kata lain, dia telah berlaku sombong, dan Allah tidak berkenan dengan perilakunya itu sehingga diusirlah ia dari surga.” Aku tersentak mendengar kata-kata terakhir ayahku. Dan seolah mengetahui pertanyaan dalam hatiku, ayah kembali berkata,
            “Iblis diusir dari surga bukan karena ketidakpatuhannya dalam beribadah, melainkan karena dia telah bersikap sombong dan menganggap mulia dirinya sendiri. Apa Nia tahu bahwa Nia mempunyai kecenderungan untuk berbuat angkuh?” Aku kembali terkejut mendengar perkataan ayahku dan tidak tahu harus menjawab apa.
            “Ayah sudah lama memperhatikan sifat Nia ini. Ayah sudah mulai khawatir dari sedikitnya jumlah teman-teman SD yang Nia undang ke rumah dan itu pun Nia batasi, hanya yang pintar saja yang dibukakan pintu. Lalu, gelar juara enam tahun berturut-turut yang Nia sebut ke mana-mana. Seharusnya Nia dapat bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, karena bisa saja Allah mencabut semua nikmat itu dalam sekejap, termasuk kecerdasan Nia. Ayah ingin, semua ini menjadi pelajaran bagi Nia. Jujur, ayah kecewa dengan nilai-nilaimu, tapi ayah akan lebih kecewa lagi jika Nia tidak bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Anggaplah ini semua sebagai bagian dari kasih sayang Allah yang menegurmu karena Nia lalai bersyukur pada-Nya.”
            Ayah lalu mengusap air mata yang berleleran di pipiku dan meninggalkanku sendirian di kamar untuk merenung. Kata-kata nasehat ayah tadi masih terngiang di telingaku. Benarkah aku sombong? Aku mengecek memori di otakku yang tiba-tiba menjadi jernih setelah satu jam lebih menangis. Lalu terbayanglah wajah kesal teman-temanku yang sering meminta diajari tentang tenses tapi aku selalu menolaknya. Kemudian,gelembung besar kebanggaan yang senantiasa memenuhi rongga dadaku. Benarkah itu suatu kebanggaan? Atau sebuah kesombongan? Sebuah bibit keangkuhan yang nantinya akan menjauhkanku dari surga Allah? Tidaaak... Tolong aku, ya Allah!
            Aku tersentak lagi. Sekarang aku memohon pertolongan Allah, sementara untuk duduk sebentar setelah sholat, menengadahkan tangan untuk mensyukuri segala nikmat-Nya pun aku tak pernah. Bagaimana Allah akan menolongku? Kesadaran demi kesadaran mulai menghantamku. Betapa pelitnya aku dalam membagi ilmu kepada orang lain, sementara aku tahu bahwa ilmu yang bermanfaat adalah penyambung pahalaku di akhirat kelak. Betapa sombongnya aku yang selalu menganggap rendah orang lain padahal aku bahkan tak lebih baik daripada mereka. Baru kusadari, betapa durhakanya aku karena tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah kumiliki dan tak pernah berusaha mensyukurinya. Aku pun kembali larut dalam air mata. Namun, entah mengapa kini aku merasa lebih lega...
            Caturwulan kedua kucoba hadapi dengan lebih banyak persiapan. Nilai-nilaiku yang mengecewakan pada cawu yang lalu membutuhkan banyak peningkatan. Aku sudah tidak malu-malu lagi untuk bertanya kepada teman-teman yang dulu kuanggap tak selevel denganku. Aku juga mulai rela dan berusaha ikhlas untuk mengajarkan apa yang kutahu kepada siapa saja, termasuk meminjamkan buku-buku catatan dan PR-ku yang dulu kuanggap keramat dan tak kuperbolehkan dipinjam siapa pun.
            Hasil dari usahaku mulai terlihat. Walaupun sempat stagnan di peringkat yang sama pada cawu kedua, akhirnya aku kembali mendapatkan tempat di posisi tiga teratas di kelas. Namun, tak ada satu pun gelar juara pertama yang tertoreh di raporku semasa SLTP. Aku sudah cukup puas sebenarnya dengan meraih tempat kedua apalagi mengingat bahwa aku dulu pernah terpuruk di peringkat yang sungguh tak pernah kubayangkan. Akan tetapi, menjelang UAN SLTP aku kembali tersadarkan. Teman sebangkuku tiba-tiba menegur saat aku menyerahkan tugas akhir yang kuketik bermalam-malam sebelumnya kepada temanku yang lain yang belum mengerjakan apa-apa.
            “Kamu tidak akan mengajari dia sesuatu hanya dengan menyerahkan tugasmu begitu saja. Seharusnya kamu mengajarkannya, bukan hanya memberikan tugasmu tanpa penjelasan apa pun! Apa kamu tidak kasihan dengan dirimu sendiri yang sudah berhari-hari mengerjakan tugas, tapi akhirnya tugasmu itu melayang ke tangan orang yang sejak awal niatnya hanya mencontek?”
            Cukup panjang kalimat yang meninggalkan bekas di hatiku. Ternyata begitu rupanya... Aku telah salah menafsirkan makna keikhlasan selama ini. Aku merasa telah berbuat amal  yang ikhlas dengan menyerahkan tugas dan PR-ku kepada teman-teman yang lain tanpa bisa mengajarkan kepada mereka satu kata pun dalam setiap tugas-tugas itu. Ah, temanku... terima kasih atas perantaraanmu dalam penyampaian hidayah kedua kepadaku. Mungkin inilah sebabnya Allah masih belum berkenan mempercayakan posisi teratas di kelas untukku, hingga waktu kelulusan SLTP tiba.
            Alhamdulillah, syukurku kepada Allah saat aku menginjak bangku SMA. Betapa Sang Maha Pemurah telah menganugrahkan begitu banyak nikmat selama tiga tahun aku belajar di sana. Pertemuanku dengan ukhti-ukhti yang begitu perhatian, mendorongku pada sebuah hidayah terbesar yang kurasakan, yaitu komitmenku untuk mengenakan pakaian takwa. Indah benar saat kukenang masa-masa penemuan identitas diriku sebagai seorang muslimah. Namun tak bisa lekang dari ingatanku, kedatangan hidayah pertama yang diamanahkan melalui lisan ayahku. Kesadaranku tentang begitu tipisnya batas antara sebuah kebanggaan dan kepercayaan diri dengan hakikat suatu kesombongan. Keangkuhan yang membuatku menuai sebuah peringatan dari Allah mengenai pentingnya syukur dan penjagaan diri dari bahaya penyakit hati ini. Walaupun hijrah terbesarku kulakukan saat memakai jilbab, selalu tetap tertanam dalam hatiku bahwa hijrah menuju syukur kepada Allah adalah hijrah yang menorehkan bekas yang begitu mendalam pada hidupku. Karena bukankah penyakit sombong itu dapat melunturkan pahala perbuatan baikku yang lain, termasuk pahala dari busana takwaku ini? Oleh karena itu, sampai sekarang aku masih berusaha tetap istiqomah pada hidayah yang telah digariskan Allah sebagai wujud rahmat-Nya kepadaku. Semoga Allah senantiasa menaungi jalanku menuju ridho-Nya. Amiin...
~~ oOo ~~
Abdullah bin Mas’ud ra. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong, meskipun hanya sebesar zarrah.”

(HR. Muslim)

Senin, 13 Oktober 2014

[Dapur Uyung] Resep Hokben-hokbenan


Beberapa pekan lalu, Ayang sempet posting foto hokben-hokbenan yang jadi menu makan kami di rumah. Aq memang hobiiiiii banget makan di hokben kalau diajak jalan-jalan ke mall. Ke BP maemnya hokben, ke Mangdu Mall juga maem hokben. Tapi lumayan nguras kantong juga kalau hobi ini diturutin. Jadilah stok fillet dada ayam di freezer beserta bahan-bahan yang ada di kulkas dipake buat bikin set menu lengkap ini.

Bahan-bahan:
Chicken Teriyaki:
300 gram fillet dada ayam, potong kecil-kecil kurang lebih 2x1 cm
1/2 bawang bombay, iris melintang
2 siung bawang putih, cincang halus
1 sachet saus teriyaki
2 sdm kecap manis
2 sdm saus sambal
minyak untuk menumis
air, garam, dan merica secukupnya

Salad:
1 buah wortel, potong korek api
1/4 kol, buang tulangnya, iris tipis
2 sdm gula
1 sdm air jeruk nipis/cuka makan

Tempe tempura:
1/2 papan tempe, potong sesuai selera
100 gram tepung bumbu
100 gram tepung roti
minyak untuk menggoreng
air secukupnya

Cara Membuat:
1. Salad: Campurkan irisan wortel, gula, air jeruk nipis/cuka makan. Aduk rata, simpan di kulkas kurang lebih 1 jam.
2. Chicken Teriyaki: Tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum. Masukkan fillet ayam, aduk sampai ayam berubah warna. Tambahkan saus teriyaki, kecap manis, saus sambal, garam dan merica. Tambahkan sedikit air, masak hingga ayam matang.
3. Tempe tempura: Celupkan potongan tempe ke dalam campuran tepung bumbu dan air. Gulingkan ke tepung roti. Ulangi lagi hingga tempe terbalut sempurna. Goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan.
4. Tata irisan kol dan acar wortel, chicken teriyaki dan tempe tempura. Sajikan dengan nasi hangat dan mayones/saus sambal bila suka. Selamat menikmati!

Mudah ya, tinggal tumis-tumis dan goreng-goreng. Tempenya bisa diganti tahu, udang atau fillet ikan. pokoknya yang ada di kulkas, hehehe. Selamat mencoba!

[Edisi Cerpen] Kakak

Supaya konsisten ada postingan setiap hari di blog ini, maka hasil karya jaman jebot bolehlah ya dipajang, hehehe..

Kakak

Hujan turun rintik-rintik, tapi aku masih berada di situ. Duduk di samping pusara yang baru saja ditaburi bunga-bunga. Sahabatku, Prima, telah menunggu di dalam mobil, tapi aku masih saja memejamkan mata, berdoa agar dia yang telah meninggalkan dunia ini dapat memperoleh tempat terbaik di surga Alloh. Prima turun dari mobil sambil membawa payung untuk melindungiku dari hujan yang semakin deras. Ia tidak mengatakan apa-apa untuk memprotes begitu lamanya aku berdiam di situ. Ia sudah terlampau paham betapa berartinya orang itu bagiku.
Aku membuka mata, menoleh memandang Prima yang telah lama berdiri memayungiku.
“Afwan, Prim. Kelamaan, ya?” tanyaku padanya. Prima tersenyum.
“Nggak, rapat supervisi juga masih satu jam lagi. Gue nggak apa-apa kalau lo masih pengen lama di sini,” jawabnya, masih dengan senyum yang sama.
“Rapat supervisi... Yah, kita harus segera kembali ke kantor,” kataku sambil mengusap nisan makam itu.
“Rakha pulang dulu, Kak,” bisikku pelan. Aku lalu mengikuti langkah-langkah Prima menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Di dalam mobil yang dikemudikan Prima, pikiranku masih tertuju kepada makam itu, pusara yang bernisankan nama Shafiyya Ardinia, yang telah menghadap Robb-nya lima tahun yang lalu. Dia adalah kakak perempuanku, satu-satunya kakakku di dunia ini, yang teramat berharga bagiku. Aku kembali terkenang pada masa-masa itu, lima belas tahun yang lalu...
~oOo~
Wajah kedua orang tuaku begitu berseri saat tahu bahwa aku diterima di salah satu SMA favorit di kota ini. Tak kulupakan betapa bangganya kakakku ketika  adiknya ini mengikuti jejaknya di sekolah yang sama, walau telah satu tahun ia berada di bangku kuliah. Kecerdasan yang kuwarisi dari otak doktor ayah ternyata amat berguna. Kulewati masa SMA itu dengan berbagai prestasi cemerlang. Juara kelas setiap tahun, bintang basket sekaligus ketua OSIS di sekolah, hingga pemenang lomba sains tingkat nasional. Betapa disayangnya aku oleh guru dan teman-teman. Tak ada yang tidak mengenal Rakha Agung Alfiandra, baik di dalam maupun di luar sekolah.
Sayangnya, prestasi yang kutunjukkan ternyata merupakan hasil dari sebuah kekeliruan besar. Nilai sempurna yang kuperoleh setiap kali ujian adalah ‘berkah’ dari heroin yang kuhisap malam harinya, penampilan prima saat pertandingan basket adalah efek dari bubuk haram yang kunikmati beberapa jam sebelumnya.
Kuakui ini merupakan kesalahan fatal, terlebih lagi keluargaku tidak tahu menahu. Mereka tidak curiga sedikit pun saat aku keluar bersama teman-temanku setiap malam Minggu. Hanya ‘teman-teman gaul’ku yang mengetahui bahwa si bintang sekolah ini kerap teler setelah menghisap heroin. Kadang kutolak ajakan kakak untuk ikut kajian Islam di kampusnya, dengan alasan bahwa aku akan mengikuti pengajian di tempat lain. Padahal saat itu adalah saat yang kusepakati dengan bandar heroin untuk bertransaksi.
Kakak yang pertama kali tanggap melihat kelakuanku yang sering keluar malam bersama teman-teman. Sudah beberapa kali dia menawarkan untuk keluar bersamanya, ikut kegiatan kampusnya, yang kutahu akan berguna untuk menjauhkanku dari lingkungan yang buruk. Tapi berkali-kali pula tawarannya kutolak dengan berbagai alasan.Hingga pada suatu malam...
Adit meneleponku, mengajakku ke rumahnya dengan alasan ingin mentraktirku mencoba ‘barang baru’. Aku jelas tertarik dengan ajakannya, terlebih lagi ini traktiran. Kapan lagi aku bisa ‘fly’ dengan gratis? Maka aku pun berpamitan dengan kakak untuk sekali lagi keluar rumah. Papa dan Mama sedang menjenguk kerabat di luar kota yang sedang sakit keras. Agak cemas kulihat wajah kakak saat itu, ketika dia mengantarku hingga ke pintu depan.
“Kamu bener harus ke rumah temenmu itu, Kha?” ia bertanya. Aku tersenyum memandangnya.
“Iya, Kak. Dia sedang sakit, jadi Rakha harus ikutan besuk,” jawabku, berbohong.
“Jangan pulang terlalu malam, Kha. Kakak sendirian di rumah.” Aku tertawa mendengarnya.
“Dah mau bikin skripsi kok masih penakut kayak anak kecil, sih?” candaku yang langsung disambut dengan cubitan kecil di lenganku. Aku meringis pelan lalu mencium punggung tangannya dan berjalan keluar pagar.
“Hati-hati di jalan, Kha!” kata kakak, sedikit berteriak. Aku menoleh dan memberikan senyum paling menentramkan sedunia. Kulihat kakakku yang cantik itu tersenyum balik dan masih memandangiku hingga aku berbelok di sudut jalan.
Tak kukira malam itu aku akan membuat kakak terkejut setengah mati. Berawal dari pintu yang digedor jam 1 malam, kakak terbangun dari tidurnya. Bergegas ia membuka pintu setelah mengenakan jilbab kaosnya. Di depan pintu, tampak aku yang sedang tidak sadar dipapah oleh dua orang temanku. Kakak langsung pucat pasi melihat keadaanku.
“Kenapa dengan Rakha? Dia kenapa?” tanya kakak pada teman-teman yang membawaku pulang. Mereka meletakkan tubuhku di sofa ruang tamu dan tidak menjawab.
“Hei, ada apa dengan Rakha?” dia bertanya lagi, agak histeris.
“Nggak tau, Kak. Tiba-tiba dia pingsan gitu, overdosis kali,” jawab salah seorang temanku. Mata kakakku seketika membelalak.
“Overdosis? Rakha? Nggak mungkin. Kalian harus menjelaskan dulu,” kata kakak pada mereka. Tapi kedua temanku itu sudah terlebih dahulu berlari keluar, meninggalkan rumah kami.
Kakak terduduk di sampingku dengan kecemasan luar biasa. Ia menepuk-nepuk pipiku agar kesadaranku kembali. Ia memanggil-manggil namaku dengan begitu khawatir. Baru kusadari keberadaannya di sampingku ketika titik-titik air  matanya jatuh di wajahku.
“Kakak...,” rintihku pelan. Ia menatapku dengan mata basah.
“Iya, Kha. Kakak di sini. Kamu kenapa?” ia bertanya dengan sedikit terisak.
“Rakha... Rakha... Uhk, uhk!” aku terbatuk dan menutupkan tanganku ke mulut. Tak kusadari cairan merah kental keluar dari mulutku, membasahi tanganku.
“Rakha!” jerit kakak yang shock melihatku batuk darah. Ia mengusap darah di dagu dan bibirku dengan jilbab putih kaosnya. Tangisnya semakin menjadi sementara aku kembali tidak sadarkan diri.
Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, tapi saat aku terbangun, rasa sakit yang luar biasa menggodam kepalaku. Aku melihat sekelilingku. Ternyata aku sedang terbaring di ruangan yang berseprai dan bergorden putih, dengan bau obat yang tercium samar. Hah? Aku ada di rumah sakit? Batinku terkejut. Aku mencoba mengangkat tubuhku tapi rasa pusing yang teramat sangat membuatku kembali jatuh ke atas tempat tidur. Sakit sekali, rasanya kepalaku mau pecah.
Pintu ruangan ini tiba-tiba terbuka. Kakakku masuk, diiringi Kak Fauzan, teman kuliahnya. Ia langsung menghampiriku yang sedang merintih memegangi kepalaku yang sakit.
“Rakha, kamu sudah sadar? Kepalamu sakit?” dia bertanya dengan kecemasan yang sama dengan saat ia melihatku muntah darah. Aku hanya memejamkan mataku, kesakitan. Ia menoleh memandang Kak Fauzan. Dengan tanggap Kak Fauzan keluar dari kamar dan memanggil dokter. Tak berapa lama, ia kembali dengan seorang dokter dan susternya.
Dokter itu memeriksa keadaanku, lalu ia menyuntikkan cairan bening ke dalam selang infusku. Susternya mengukur tekanan darahku dan mencatatnya. Setelah selesai, dokter berkata,
“Ini hanya efek narkoba yang semalam dia konsumsi. Untuk sementara adik Anda akan sedikit kesakitan seperti tadi. Tapi saya sudah memberikannya obat penghilang rasa sakit. Akan efektif mengurangi derita sakit kepalanya.” Kemudian dokter dan susternya keluar, meninggalkanku bersama kakak dan Kak Fauzan.
Rasa sakit di kepalaku mulai berkurang perlahan. Aku sudah bisa membuka mata sepenuhnya. Kutatap wajah kakak yang cemas. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, yang kuyakini sebagai akibat ia terjaga sepanjang malam. Ia kelihatan begitu lelah dan ada sedikit bekas air mata di sudut matanya.
“Gimana Rakha bisa ada di sini?” aku bertanya. Kakak melangkah mendekatiku.
“Setelah kamu pingsan lagi semalam, Kakak menghubungi Kak Fauzan supaya bisa membantu Kakak membawamu ke rumah sakit. Alhamdulillah, kami tidak terlambat membawamu ke sini,” jawabnya sambil mengusap rambutku. Lalu kami sama-sama terdiam, sampai akhirnya aku membuka suara.
“Maafin Rakha, Kak...,” kataku parau.
“Kenapa Rakha? Kenapa kamu jadi kayak gini?” kakak bertanya lirih. Aku menghela napas berat.
“Ini salah Rakha, Kak. Rakha sudah terjerumus hingga akhirnya jadi seperti ini. Rakha benar-benar menyesal.” Kakak memandangku dengan mata berkaca-kaca.
“Sejak kapan, Kha?” ia bertanya lagi.
“Rakha nggak tahu kapan persisnya. Tapi Rakha sudah mulai kecanduan saat kelas 1 SMA,” aku mengaku. Kakak tampak seperti hampir kehilangan keseimbangan. Kak Fauzan memapahnya hingga duduk di kursi di sebelah tempat tidurku. Kakak menutup wajahnya yang kutahu bersimbah air mata. Ia terisak, bahunya terguncang-guncang.
“Maafin Rakha, Kak. Rakha menyesal...” lirihku seraya meraih tangannya dan mengusap air matanya. Ia mulai tenang dan menatapku lagi.
“Papa dan Mama tahu?” tanyaku kepadanya. Ia menggeleng lemah.
“Kak, Rakha mohon... Jangan sampai Papa dan Mama tahu. Mama punya penyakit jantung, Kak. Rakha nggak mau mereka kecewa melihat keadaan Rakha sekarang,” aku memelas, memohon kepadanya.
“Kakak tahu. Tapi kamu harus memperbaiki diri, Rakha. Jauhi obat haram itu, kecuali kamu mau melihat keluargamu hancur,” kakak berkata, tegas. Aku terhenyak mendengarnya.
“Rakha berjanji, Kak,” janjiku padanya, kugenggam tangannya yang bergetar karena menahan isak tangis, “Rakha berjanji nggak akan deket-deket obat itu lagi, demi kakak, demi mama dan papa.”
“Demi dirimu sendiri juga, Kha,” kakak berkata pelan sambil balas menggenggam tanganku.
Begitulah, aku akhirnya belajar untuk lebih menghargai diriku sendiri, lebih menghormati hidupku yang hampir tersia-sia karena beberapa gram bubuk heroin. Kakak benar-benar tidak memberitahu orang tua kami. Ia hanya mengingatkanku agar tidak lagi bergaul dengan teman-teman dan lingkungan yang bisa mengajakku kembali ke jurang kenistaan. Aku pun menuruti pintanya untuk ikut acara-acara keagamaan di kampusnya, berkumpul dengan saudara-saudara seiman untuk mempelajari ilmu agama dan meningkatkan ketakwaan. Agak berat memang awalnya, tapi kakak senantiasa menyemangatiku. Kemudian segalanya menjadi lebih mudah kujalani, terlebih saat Kak Fauzan menjadi murobbiku. Ia, yang telah kuanggap sebagai calon kakak iparku ternyata sangat baik memahami dan membimbingku kembali ke jalan yang lurus. Aku jadi merasa sangat tertolong untuk menjauh dari kecanduan dengan berada di tengah-tengah komunitas yang mampu membangkitkan ghiroh ke-Islamanku.
Meski demikian, suatu saat aku kembali jatuh di lubang yang sama. Di tengah keadaanku yang stres menjelang Ujian Akhir Nasional, aku bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah memperkenalkan narkoba kepadaku. Mulanya aku menolak tawaran mereka. Tapi kerinduanku pada bubuk putih itu, dan keinginanku untuk tampil cemerlang saat ujian membuatku menghisap bubuk itu lagi. Namun, kali ini mereka mengajakku mencoba cara baru menikmati heroin, yaitu dengan jarum suntik. Parahnya, aku langsung mencoba menyuntikkannya di pembuluh darah leherku, karena kuyakini itu cara tercepat bagiku untuk ‘fly’. Efeknya langsung terasa beberapa menit setelah injeksi. Rasa bahagia luar biasa memenuhi otakku. Aku berteriak sekeras-kerasnya karena saat itu aku merasa sangat hebat, seolah aku bisa mengerjakan ratusan soal ujian saat itu juga. Entah kenapa, di tengah kegilaanku itu, aku teringat kakakku. Terbayang wajah pucatnya yang mencemaskan keadaanku. Aku tersadar sejenak, tapi bayangan setan lebih kuat mendekapku. Aku pun kembali jatuh ke dalam luapan rasa gembira imitasi hasil suntikan heroinku.
Aku kembali masuk rumah sakit beberapa hari menjelang kelulusan. Dokter mengatakan bahwa pembuluh darah leherku mengeras akibat heroin yang sering kusuntikkan. Yang kusesali, kali ini bukan hanya kakak saja yang kecewa. Papa marah besar padaku. Beliau berteriak-teriak padaku yang terbaring di rumah sakit, mengatakan aku mempermalukan keluarga, merusak diri sendiri, dan banyak lagi. Tapi yang menyesakkan batinku, Mama langsung kumat penyakit jantungnya saat tahu bahwa aku adalah seorang pecandu heroin. Wanita yang kucintai itu pun masuk ICU karena penyakitnya, penyakit yang dibuat anaknya sendiri.
Sungguh kasihan aku melihat kakakku. Ia harus bolak-balik antara kamarku dan ruangan ICU tempat Mama dirawat untuk menjaga kami berdua di tengah-tengah kesibukannya menyusun skripsi. Sering aku melihatnya tertidur ketika sedang menungguiku di rumah sakit. Tak sepatah kata pun terucap darinya saat merawatku. Aku paham, kekecewaannya padaku pasti lebih parah daripada kekecewaanku pada diriku sendiri.
Malam itu, cuaca di luar sedang tidak menentu. Angin bertiup kencang sekali hingga kaca jendela kamarku di rumah sakit berderak. Guntur sesekali menyambar, menimbulkan kilat yang menyilaukan mata. Tapi langit tak kunjung menurunkan hujan. Tiba-tiba pintu kamarku menjeblak terbuka. Kakak masuk dengan wajah yang sangat pucat dan ketakutan. Terengah-engah dia menarik kursi rodaku dan menyuruhku bangun dari tempat tidur.
“Kha, ikut kakak. Cepat!” perintahnya dengan suara bergetar. Aku bangkit dari tempat tidur dan perlahan duduk di kursi rodaku.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanyaku saat kami sudah berada di koridor rumah sakit. Kakak tidak menjawab. Ia hanya mendorong kursi rodaku lebih cepat menuju tempat yang tidak kuketahui.
Lima belas menit kemudian, kami berada di depan ruangan ICU. Aku langsung tersadar akan alasan aku dibawa ke sini. Ah, pikiran jelek ini langsung kubuang. Pasti Mama baik-baik saja.
Di atas ranjang putih, berselimutkan kain yang juga putih, Mama terbaring. Aku tak bisa menarik napas, tapi aku lega saat kudengar suara Mama memanggil.
“Rakha...,” panggilnya lemah. Kakak mendorong kursi rodaku mendekati tempat tidurnya.
“Maafin Rakha, Ma. Rakha menyesal,” kataku dengan air mata yang sekuat mungkin kutahan.
“Iya... Mama maafkan. Jaga kakakmu, Kha, juga dirimu... Belajar yang baik, Nak, Mama ingin kamu menjadi orang yang sukses...,” beliau berkata pelan seraya menarik napasnya yang tinggal satu-satu.
“Mama...,” lirih kakakku. Air matanya sudah mengalir di pipi.
“Kalian harus saling menjaga,” Mama mengalihkan pandangannya kepada kakak, “bahkan kalau Mama sudah nggak ada.”
“Mama nggak boleh bilang begitu,” terdengar suara tegas Papa. Mama menatap suami yang dicintainya itu, lalu tersenyum. Wajah Mama yang putih tampak semakin pucat, perlahan ia memejamkan matanya.
“Mama!” aku dan kakak berteriak histeris. Tapi wanita itu sudah tak ada lagi, ia telah berpulang kepada Robb-nya. Aku menangis sambil menggenggam tangan Mama yang telah menjadi dingin. Kakak menangis sampai bagian depan jilbabnya basah oleh air mata. Sempat kulihat Papa yang juga menitikkan air mata, tapi roman mukanya mendadak mengeras.
“Kau!” tunjuk beliau padaku, “kau yang membuat ibumu sendiri meninggal! Anak macam apa kau ini!” bentaknya keras. Beliau hendak melayangkan tangannya ke wajahku tapi kakak menangkis tangan itu.
“Pa! Papa sadar nggak, mau mukul anak sendiri? Ini Rakha, Pa! Anak Papa!” teriak kakakku yang terkejut melihat kelakuan Papa. Papa menurunkan tangannya, lalu berkata,
“Dia bukan anakku lagi.” Kata-kata beliau bagaikan guntur yang mendera langit di luar. Kakiku mendadak lemas.
“Papa ngomong apa? Istighfar, Pa,” kakakku berusaha menenangkan.
“Keluar kau dari ruangan ini!” Papa membentakku lagi.
“Pa, kalau Papa mengusir Rakha, berarti Papa juga mengusir Fiya,” kata kakakku serak.
“Pergi saja kalau kau mau. Urus adikmu yang tidak tahu malu itu. Pembunuh ibunya sendiri! Dia bukan anakku lagi,” Papa mengulangi kalimatnya. Aku langsung bereaksi begitu mendengar kata-kata beliau.
“Rakha bukan pembunuh Mama!” teriakku keras. Aku berusaha bangkit dari kursi rodaku sambil mengepalkan genggamanku. Kakak berusaha menahanku tapi Papa sudah lebih dulu bertindak. Kepalan tangannya yang lebih besar menghantam sisi kepalaku.
“Papa! Papa nggak boleh mukul Rakha!” kakak menahan tangan Papa yang sudah terangkat lagi. Papa melepaskan tangannya dan seketika menampar kakak.
Kakak terdiam sambil meraba pipinya yang memerah. Aku langsung naik darah, tapi kakak menahan bahuku.
“Kau membela dia, berarti kau juga bukan anakku,” Papa berkata dengan marah. Kakak tersentak.
“Pergi kalian...,” sambung Papa akhirnya. Kakak menunduk dan mendorong kursi rodaku keluar ruangan. Aku pun sudah tidak mempunyai daya lagi. Kakak membawaku kembali ke kamar.
Aku merasakan betul apa yang dirasakan kakak. Apa lagi yang bisa dirasakan dua anak yang tidak lagi diakui ayahnya, selain rasa sakit? Kakak tentu berharap kemarahan dan kekecewaan Papa atas kematian Mama akan mereda. Tapi nyatanya tidak, kami diusir keluar dari rumah dan bahkan tidak diperkenankan mengurus dan mensholatkan jenazah Mama. Aku benar-benar ingat saat kami harus bersabar menunggu di balik pohon, menanti rombongan yang mengantar jenazah Mama ke pemakaman pulang. Tak tergambarkan sedih yang kami rasakan saat kami duduk di samping makam Mama dan berdoa untuknya
Kak Fauzan membantu mencarikan kontrakan untuk kami. Aku sangat kagum pada kakakku yang mampu menyelesaikan skripsinya dalam masa-masa sulit seperti ini. Masa di mana ia harus pontang-panting mencari tambahan uang untuk hidup kami berdua sementara tabungannya semakin menipis. Aku sangat berbahagia ketika ia pulang dengan senyum di wajah, senyum pertamanya sejak beberapa kejadian kemarin. Ia memberitahukan bahwa ia diumumkan sebagai mahasiswa terbaik di jurusannya saat yudisium. Tapi senyum itu segera pudar saat ia sadar bahwa orang tua kami tak bisa turut berbangga hati melihatnya diwisuda sebagai sarjana akuntansi terbaik di angkatannya. Aku hanya bisa menggenggam tangannya, menguatkan hatinya agar tetap bersemangat menghadapi hari.
Setelah aku cukup sehat, aku mulai mencicil belajar untuk ikut tes masuk perguruan tinggi. Namun aku sadar, tak ada satu pun universitas yang mau menerima bekas pecandu seperti aku. Maka aku berusaha keras untuk hidup sesehat mungkin. Aku bertekad untuk menghilangkan bekas-bekas obat haram itu dari tubuhku. Setahun kemudian, setelah dokter menyatakan aku sehat dan bersih dari narkoba, aku baru berani mendaftar masuk universitas. Aku pun mencari informasi beasiswa agar nantinya aku tidak lagi menyusahkan kakak dengan biaya kuliah. Aku tidak ingin merepotkan kakak lebih banyak lagi terlebih saat ia menolak lamaran Kak Fauzan.
Siang itu Kak Fauzan bertandang ke kontrakan kami. Aku paham bila ia ingin berbicara pribadi dengan kakak. Tak sengaja aku mendengar percakapan mereka. Kak Fauzan ingin mengkhitbah kakak, dengan pertimbangan bahwa mereka sudah lulus kini, dan Kak Fauzan sudah dikontrak sebuah perusahaan asing. Akan tetapi, dengan halus kakak menolaknya. Kakak beralasan bahwa ia masih punya kewajiban untuk mengurus pendidikanku, lagipula ia tak bisa meminta Papa untuk menjadi wali nikahnya. Walaupun Kak Fauzan mengatakan bahwa mereka bisa berusaha bersama-sama, kakak tetap tidak bisa membuat Kak Fauzan menanggung beban ini juga.
Maka dari itu, aku berusaha keras untuk mengurus pendidikanku sendiri. Segala macam tes kuikuti, dengan harapan bahwa kakak tidak perlu mencemaskan pendidikanku lagi. Ketika akhirnya aku diterima di sebuah perguruan tinggi kedinasan, aku sangat gembira. Kuberitahu kakak bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan biaya pendidikanku, karena aku akan kuliah gratis. Kuberitahu pula bahwa ia tidak perlu lagi menolak lamaran Kak Fauzan, tapi dengan bijak kakak berkata,
“Menikah itu pasti, Kha. Yang belum pasti adalah kapan dan dengan siapa.” Ketika aku membicarakan Kak Fauzan, kakak malah menghindar. Padahal aku tahu bahwa mereka berdua tentu saling mencintai. Ya Alloh, apakah aku menghalangi kakakku menikah?
Aku bertekad untuk memenuhi permintaan terakhir Mama yang menginginkanku untuk belajar dengan baik. Sekali lagi, kecerdasan warisan Papa amat berguna. Kakak juga sudah bekerja sebagai akuntan publik sekarang. Ia pun sering memberiku tambahan uang jajan walaupun aku sudah melarangnya. Aku sudah bisa mencari uang sendiri dengan mengajar privat beberapa anak SMA sehingga bisa mencukupi kebutuhan pribadiku dan sedikit kebutuhan makan kami.
Selepas kelulusanku dari perguruan tinggi kedinasan itu, aku ditempatkan sebagai pegawai di lingkungan BPK dan mulai meniti karirku sebagai auditor. Aku benar-benar tertarik dengan pekerjaan ini karena aku memperhatikan kakakku yang sering memeriksa laporan keuangan perusahaan-perusahaan dan mengauditnya untuk keperluan manajerial. Agak beresiko memang, tapi kakak selalu menasehatiku agar idealisme dan kejujuran yang kuperoleh dari kampus tetap berdenyut dalam nadiku di manapun aku ditempatkan.
Alhamdulillah instansi tempatku bekerja memberiku keleluasaan untuk mengambil kuliah S1 dan S2. Selama pendidikan S2-ku di kelas ekstensi sebuah universitas, aku hanya diberikan pekerjaan di dalam kota, sehingga kerja dan kuliahku dapat berjalan seiring. Selama bekerja, aku banyak menemukan kasus yang unik dan kebanyakan beresiko, contohnya saja penggelapan pajak oleh salah satu subbidang sebuah departemen pemerintah. Semuanya membuatku merasa tertantang untuk terus mengorek kebusukan yang menggerogoti keuangan negara ini.
Pada tahun terakhirku kuliah, aku harus menyusun tesis. Aku lalu mengambil contoh kasus dari laporan keuangan sebuah instansi besar milik pemerintah yang sejak dulu kucurigai, sekalian menyelesaikan tugasku dan tim yang memang ditugaskan mengaudit lembaga itu. Dalam tugasku itu, tim menunjuk seorang akuntan publik untuk menjamin independensi, dan ternyata kakakku yang memperoleh tugas itu.
Kami bahu membahu menyusun rencana untuk menyelidiki kebohongan besar yang ditutupi oleh laporan keuangan yang senantiasa menunjukkan saldo balance. Tapi hal itu tidak mudah, karena dewan pimpinan instansi itu menghalangi kami untuk meperoleh kebenaran. Begitu sulitnya, sampai aku harus memperpanjang waktu pembuatan tesis.
Maka dari itu, aku beserta tim langsung melonjak gembira saat kami mendapatkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pengurus instansi itu sudah menipu pemerintah selama bertahun-tahun karena kerugian negara yang mereka timbulkan sangatlah besar. Namun sekali lagi kami memperoleh perlawanan sengit. Instansi itu menuduh kami tidak menjalankan prosedur auditing yang sesuai dan mereka merasa dirugikan dengan opini yang kami keluarkan terhadap laporan keuangan mereka. Entah mengapa, masalah ini menjadi besar karena mereka tiba-tiba menuntut tim auditor dengan tuduhan tidak profesional dalam menjalankan tugas sehingga mereka merasa nama baik instansi telah dicemarkan oleh laporan tim kami yang menyatakan bahwa lembaga tersebut sudah ‘tidak sehat lagi’.
Masalah ini kemudian diperkarakan ke pengadilan. Aku sebagai ketua tim harus bertanggung jawab atas kinerja kami, maka kami semua didudukkan di muka hakim. Semuanya kian sulit saat kami harus menghadapi tuduhan yang tidak pernah kami lakukan. Perlindungan dari BPK juga tidak terlalu kuat untuk menolong kami. Ketika semuanya sudah berbalik arah melawan kami, tiba-tiba kakak berdiri di depan hakim.
“Saya adalah akuntan publik yang berkewajiban menjamin independensi tugas tim auditor ini. Tim dari BPK ini telah menjalankan proses audit yang sesuai, dan sayalah yang bersalah apabila tuduhan itu benar karena saya yang seharusnya mengawasi kinerja mereka.”
Aku memelototi kakak, tapi tak sedikit pun ia bergeming. Proses peradilan kembali bergulir, dan fitnah yang teramat kejam dialamatkan kepada kakak. Ia dituduh tak berhasil melaksanakan tugasnya dan itu berakibat pada kerugian yang (katanya) diderita instansi korup itu. Begitu sakit hatiku ketika kakak didakwa atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan. Ia pun divonis penjara sementara aku dan timku dibebaskan dari semua tuduhan. Namun ia tak gentar menghadapi semua itu. Aku pun berusaha mengajukan banding untuk membebaskan kakakku. Tapi rupanya lembaga peradilan negara ini masih terlalu buta untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.
Aku mengunjunginya di penjara, memarahinya karena pernyataannya yang begitu berani di hadapan hakim. Ia tersenyum dan berkata,
“Rakha, kakak sudah tahu kita tidak akan menang menghadapi ‘orang-orang kuat’ seperti mereka. Jika salah satu dari kita tidak berkorban, maka seluruh tim akan masuk penjara.”
“Tapi kenapa harus kakak?” tanyaku agak emosi.
“Kalau bukan kakak, pasti kamu yang akan kena masalah karena kamu adalah ketua tim. Kakak cuma menjalankan amanah Mama untuk menjagamu, lagipula tesismu harus diselesaikan,” jawabnya sambil tersenyum simpul.
“Rakha berjanji akan mengeluarkan kakak dari tempat ini. Kakak sabar, ya,” aku menguatkan hatinya, memberinya sedikit semangat. Ia mengangguk dan memberiku pandangan yang menentramkan.
Aku kemudian mengulang penelitianku, mencari celah kelemahan instansi itu. Beruntung rekan-rekan setimku banyak membantu, seniorku di BPK juga turut serta. Bersama-sama kami membongkar lagi kasus itu, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar. Pimpinan instansi itu tidak menyangka kami akan melakukan serangan balik, terlebih usaha kami ini mendapat persetujuan langsung dari kepala departemen tempat instansi itu bernaung. Tak lama setelah kasus itu dibawa lagi ke pengadilan, kami akhirnya memperoleh kemenangan. Aku sangat bahagia membayangkan kakakku akan segera merasakan kehangatan rumah kami lagi.
Saat mengunjunginya di penjara, aku menggenggam tangan kakakku yang sebentar lagi akan bebas dan namanya akan dibersihkan. Kulihat senyum lebar di raut wajahnya yang sedikit kehilangan cahaya akibat hidup di dalam sel.
“Kakak bangga kamu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri,” ia berujar. Kutatap matanya yang terlihat begitu lelah.
“Kakak sakit?” tanyaku cemas. Kakak menggeleng.
“Kakak cuma masuk angin, sebentar lagi juga sembuh,” katanya menenangkanku. Aku lalu menyemangatinya untuk sabar menanti hari kebebasan.
Hari yang kami tunggu itu pun tiba. Setelah menandatangani surat pembebasannya, kakak segera menghampiriku yang datang menjemputnya. Ia masih tampak begitu cantik walaupun wajahnya cekung karena beberapa bulan berada di penjara. Aku menyiapkan kejutan begitu kami tiba di rumah. Balon-balon beraneka warna menyambut kedatangan kakakku. Aku masih sangat ingat bahwa ia begitu menyukai balon sejak masa kanak-kanaknya. Kakakku benar-benar tertawa saat itu, ia sangat berbahagia bisa berada lagi di rumah dan berkumpul lagi dengan adiknya. Namun aku tidak menyangka, itu adalah tawa terakhirnya.
Hari-hari berikutnya, aku memperhatikan kakak yang tampak kurang sehat. Saat kutanya ia menjawab hanya masuk angin biasa. Betapa terkejutnya aku, saat pulang dari kantor, aku mendapati kakak terbaring pingsan di lantai.
Secepat mungkin aku membawanya ke rumah sakit. Dokter menjelaskan bahwa kakak terserang ISPA, sehingga kondisi tubuhnya lemah sekali. Malam itu aku menemaninya di rumah sakit, untunglah ia cepat siuman dari pingsannya.
“Kakak senang kamu bisa melaksanakan pesan Mama untuk menjaga kakak,” ia berkata lemah.
“Itu memang kewajiban Rakha. Kita memang harus saling menjaga dan melindungi, kan?” Pertanyaanku itu dijawab dengan anggukan setuju dari kakak. Aku menyuruhnya beristirahat agar tubuhnya bisa kembali segar. Ia pun menutup matanya.
Menjelang subuh, aku terbangun dari sofa di kamar tempat kakak dirawat. Aku ingin membangunkan kakak untuk sholat bersama. Tapi saat kuperhatikan wajah tidurnya yang begitu tenang, aku menjadi curiga. Kupegang tangannya yang kini sedingin es, wajahnya begitu putih, persis wajah Mama saat...
Aku langsung menghambur keluar, mencari dokter yang sedang berjaga. Dokter segera memeriksa denyut nadi kakak, mengecek napasnya, tapi kemudian dia berbalik menghadapku dengan ekspresi prihatin.
“Maaf, tapi kakak Anda sudah meninggal,” ia berkata pelan. Aku tersentak kaget.
“Nggak mungkin, Dok. Semalam dia masih baik-baik saja. Kakak nggak mungkin meninggal!” aku berkata histeris. Dokter lalu menepuk pundakku.
“Anda harus bersabar menghadapinya,” kata dokter sambil berlalu dari ruangan itu, meninggalkanku yang kini menangis di samping tubuh kakak yang mulai membeku.
~oOo~
“Elo udah nyiapin bahan-bahan supervisi kan, Kha?” tanya Prima, membuatku tersadar dari kenangan masa lalu.
“Eh, iya,” jawabku agak tergagap. Pikiranku masih tertuju pada kakak. Rupanya Prima memperhatikan ekspresi wajahku.
“Lo begitu menyayanginya, ya? Kakak lo emang bener-bener berarti buat lo, kan?” ia bertanya lagi. Aku sebetulnya tidak perlu menjawab pertanyaan retoris itu, karena aku teramat sangat menyayangi kakakku itu.
“Dia bukan sekedar kakak. Dia adalah pahlawanku. Setelah semua pengorbanan yang ia lakukan demi diriku, aku benar-benar menyadari bahwa ia begitu berharga, begitu sempurna ia menjalankan perannya sebagai kakak yang senantiasa menjagaku.”
“Sayang dia nggak sempet liat anak lo. Kalau dia liat ponakannya itu, mungkin dia bisa bandingin dengan kenakalan lo waktu masih kecil,” senyum Prima padaku. Aku melotot padanya.
“Jadi maksud lo, anak gue nakal, gitu?” tanyaku dengan nada yang sedikit meninggi.
“Hei, hei, sejak kapan lo pake bahasa ‘lo-gue’?” tanya Prima sambil terkekeh. Aku sendiri tertawa mendengarnya.
Mobil pun melaju membelah jalan raya yang akan mengantarkan kami menuju kantor. Melaju bersama kenanganku tentang kakak yang selamanya tak akan hilang dari ingatanku. Kakak, aku merindukanmu...

Palembang, 19 Oktober 2007, 00:44

Minggu, 12 Oktober 2014

[Jalan-Jalan] Hacked Honeymoon by Juventus Singapore Tour

Hmm, di-challenge Ayang buat nulis tentang jalan-jalan ke Singapore dua bulan lalu. Ayang pengen tau perasaan q yang sebenarnya tentang perjalanan 4 hari 3 malam di negara Merlion itu. Baiklah, marilah kita mulai sesi pertama cerita jalan-jalannya.

Ayang itu Juventini sejati, ya, sejak awal mengenalnya aq sudah tahu itu. Dulu aq pikir ngefansnya Ayang ke Juve itu sama kayak jaman aq ngefans pas SMP dulu: rela begadang buat nonton laga Serie A, nabung buat beli poster pemain, sengaja ke Gramed buat beli tabloid Soccer, plus berantem sama temen yang Interisti (hahaha). Ternyata pemikiran q itu salah besar, Juve bukan sekedar klub bola, melainkan lifestyle buat Ayang. Bela-belain streaming buat nonton pertandingannya mah sooo yesterday, kesukaan Ayang pada Juve lebih dari itu. Gak percaya? Coba lihat koleksi jersey-nya yang berharga "jut-jut" itu.
Ini dia jemuran Ayang di rumah
Makanya, saat Ayang bilang Juve bakal tanding di Singapore dan ia pengen nonton, aq sudah mafhum. Tapi bener-bener gak nyangka kalau Ayang serius dengan niatnya ini. Beberapa kali aq nyeletuk, tunggu di GBK aja, mana tahu Juve-nya tanding di Indonesia juga, tapi Ayang yakin seribu persen kalau kesempatan Juve tanding di Indonesia itu kemungkinannya kueciiiiiiill buangeeeeett, gak ada kepastian dari promotor soalnya (beberapa bulan kemudian keyakinan ini ditumbangkan oleh kedatangan Juve ke Jakarta). Beberapa kali pula aq sengaja menunda-nunda hunting tiket murah, pengennya supaya bisa dipertimbangkan lagi, tapi tekad Ayang sudah bulat. Dan dengan rayuan dan iming-iming second honeymoon di Singapore, aq luluh juga dan membiarkan kartu kredit yang bekerja. Apakah iming-imingan itu terbukti? Kita tunggu kisah selanjutnya.

Lanjuuuutt. Kami pun mulai merencanakan perjalanan ke Singapore. Oiya, aq setuju dengan perjalanan ini karena Ayang bersedia menanggung semua akomodasinya. Sedih juga si ngeliat beberapa jersey-nya dijual ke mana-mana, tapi kata Ayang "for the greater good", jadi ya sudahlah, aq tinggal nyari gimana cara ngabisin duit penjualannya, hehehe. Yang bikin Ayang semangat banget adalah ia memenangkan tiket Meet and Greet Juventus di Singapore. Wuih, tambah heboh lagi persiapannya. By the way, aq sempat ngambek soal kontes MnG ini. Pasalnya, Ayang menang setelah mem-posting surat cinta panjang tentang Juve, huhuhu, aq yang istrinya ini malah belum pernah dikirimin surat cinta. Akhirnya untuk meredakan ngambek q, Ayang berjanji akan menuliskan surat cinta buat q (yang sampai saat ini belum aq terima T__T). Nah, menjelang hari keberangkatan, datanglah berita gembira untuk kita semua: Juventus bakal datang ke Jakarta! Rasanya pengen banget ngeleletin lidah ke Ayang, weeeeekk :P. But guess what? He also wanted to watch the match at GBK! Wah, mewek-meweklah aq, pertandingan di GBK itu pas banget kami sedang liburan di Palembang. Segala upaya Ayang kerahkan untuk membujuk q, tapi aq bergeming (dan mewek). Akhirnya disepakatilah bahwa liburan di Palembang tidak bisa diganggu gugat untuk alasan apapun. Tok! Tok! Tok! (ketok palu).

Lalu berangkatlah kami ke Singapore. Deg-degan pastinya (hahaha, katrok banget), karena ini perjalanan pertama kami ke luar negeri. Alhamdulillah Singapore adalah negara yang teratur, jadi kami tidak kesulitan selama wara-wiri di sana. Ada beberapa hal yang patut di-highlight selama berlibur ke Singapore:
1. Ayang rela desak-desakan plus lari-lari mengejar pemain Juve saat mereka landing di Changi. Saat melihat berita tentang orang rame desak-desakan saat ngantri Blackberry diskon, aq ngerasa biasa aja. Namun saat melihat Juventini rame nunggu pesawat Juve landing, aq ciut. Rame bingit booo! Saat itu, Ayang langsung ribet ngeluarin jersey buat ditandatangani dan spanduk buat menyambut para pemain Juve. Aq? Ya aq berurusan dengan kamera dan ngejagain tas. Awalnya aq pengen duduk-duduk aja di lobi Changi yang nyaman, tapi ngeliat Ayang riweuh sendiri dengan seabrek atributnya, aq ikutan berdiri di tengah keramaian para Juventini. Banyak bule yang penasaran sama rombongan item-putih ini, sempat ada beberapa yang nanya dan minta foto-foto dengan spanduk yang dibawa Ayang, tapi ada juga beberapa yang gak tau Juventus itu apa, hahaha. Setelah agak pegel berdiri, akhirnya satu per satu pemain Juve keluar dari gerbang departure. Heboooohh! Para fans mulai meringsek sepanjang penjagaan security. Aq kedorong-dorong dan Ayang minta izin buat mengejar pemain Juve yang mengarah ke bus di luar. Pegel dan berbuah tanda tangan Marchisio, hehehe.
Nunggu Juve landing di Changi
2. Besok paginya, Ayang bela-belain dateng ke Hotel Fullerton buat nungguin pemain Juve dan minta tanda tangan. Nyampe Fullerton jam 7 pagi waktu Singapore alias jam 6 WIB trus bersama kakak pertama a.k.a Mas Pandu, Ayang turun ke lobi hotel. Sempet ketemu sama Chiellini, trus foto-foto dan tanda tangan jersey, sempet pula ditegur dan diusir security (hiks, shock waktu itu). Akhirnya nunggu di luar hotel yang sudah dikasih pagar pembatas menuju bus pemain. Lumayan lama nunggunya, dua jam lah, sementara di luar hotel pemandangannya bagus banget buat jalan-jalan :(. Tapi demi Ayang, profesi fotografer pribadi ini harus dijabanin. Alhamdulillah gak serame di Changi, Ayang dapet banyak tanda tangan dan aq menjepret banyak foto. Berhubung Ayang seneng, maka jalan-jalan hari itu bener-bener seru, bisa ke Merlion dan naik River Cruise. Aq bahkan gak protes saat kudu nunggu hampir dua jam lagi buat ngantri nonton open training Juve karena malamnya kami rekreasi romantis di atas Singapore Flyer.
Om, tanda tangannya om
Singapore National Stadium
Melihat pemandangan malam Singapore
3. Pagi kedua kongkow-kongkow di Fullerton (aslinya berdiri di depan lobi hotel), lumayan kaget karena Juventini yang nungguin udah rameeeeeee banget. Senyum Ayang sempat meredup saat melihat lebih dari 50 orang sudah stand by di sana. Maka aq pun menawarkan diri untuk ngejagain spot berdiri di depan pagar pembatas. Berkalungkan kamera dan bersenjatakan spidol, aq pelototin siapa aja yang berani geser-geser ke dekat q. Tibalah saat para pemain keluar dari hotel, woooohh, udah gak tahu lagi siapa yang kesikut pas aq angkat kamera tinggi-tinggi buat mengabadikan momen penandatanganan jersey Ayang. Jersey yang ditandatangani memang gak sebanyak hari sebelumnya, tapi yang berkesan adalah Ayang dapet tanda tangan Pirloooo, memang mirip Chuck Norris banget itu orang, gak ada senyumnya sama sekali (Pirlo is not impressed, hahaha lol). Memanfaatkan waktu sebelum MnG, aq dan Ayang jalan-jalan ke Gardens by The Bay, tapi karena pengen nyantai jalan-jalannya, kami sepakat tiket Flower Dome-nya dipakai setelah selesai MnG saja. Sesuai janji, pukul setengah 3 siang aq dan Ayang bertemu di stasiun MRT buat langsung ke GbTB, tapi aq kaget melihat wajah Ayang yang lesu saat bertemu. Olala, ternyata MnG-nya gak sesuai harapan, tanda tangan yang diincar pun tidak didapat. Aq berusaha menghibur Ayang dengan bilang kalau setelah ini kami akan senang-senang di GbTB sebelum Ayang nonton match Juve jam 6. Ayang lalu bilang kalau penukaran tiket match dilakukan jam 4, yang artinya Ayang gak bisa ke stadion tepat waktu kalau kami ke GbTB dulu. Hiks, dengan berat hati aq bilang supaya ke GbTB-nya gak jadi aja (SGD 36 buat berdua hangus T__T). Dan dari situ aq bilang supaya Ayang langsung ke stadion aja supaya gak telat, aq nanti pulang sendiri ke hotel. Ayang pun mengiyakan dan kami berpisah lagi. Sepanjang jalan sebenernya aq mau nangis. Pikiran semacam "second honeymoon apaan, isinya Juve semua, Ayang lebih mentingin Juve daripada aq, blablabla" berseliweran di kepala. Sampe di stasiun Lavender pun aq sempet linglung, lalu duduk sebentar dan menenangkan diri. Kemudian aq memutuskan untuk menyalurkan esmosi pada sekantung kentang goreng Wendy's yang aq beli di stasiun. Di hotel aq mencoba mencari-cari channel yang menayangkan pertandingan Juve, tapi gak ada. Sampai hampir jam 9 aq gelisah mondar-mandir menanti Ayang pulang. Saat terdengar suaranya di depan pintu, aq bergegas membuka kunci. Tapi yang aq dapati adalah wajah kucel berkeringat tanpa senyum. Rupanya misi pencarian tanda tangan tidak berhasil di pertandingan. Aq merasa menyesal sudah menghabiskan kentang goreng sendirian padahal Ayang belum makan sama sekali. Akhirnya kami keluar makan malam, tapi karena suasananya suram (Ayang gak semangat, aq bete), makannya jadi gak jelas, belanja di Mustafa Center pun tambah gak jelas.
Stand by
Juve's match
Sekarang bisa dipahami lah ya kenapa judul postingan ini "Hacked Honeymoon by Juventus Singapore Tour". Dari suka duka perjalanan ke Singapore, kami jadi semakin memahami sebagai pasangan suami istri. Ayang jadi semakin paham gejala-gejala ngambek q dan cara penanganannya, dan aq sedikit banyak jadi lebih memahami kesukaan Ayang pada Juventus. Next stop, kata Ayang, jalan-jalan ke Tokyo buat nyamperin toko jersey recommended di sana, hadeeeeehh. Eniwei, ditunggu surat cintanya ya sayang.. (Ayang pasti keselek baca kalimat terakhir ini)